TEMA DAN LOGO PERJALANAN APOSTOLIK PAUS FRANSISKUS KE ASIA

Kita sudah mendengar dan membaca di berbagai media sosial mengenai rencana perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Asia. Ini merupakan perjalanan terpanjangnya meninggalkan Vatikan, baik dari sisi lamanya waktu maupun jauhnya jarak yang ditempuh. Paus Fransiskus akan berada di empat negara pada 3-13 September 2024, yaitu: Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura. Kunjungan ke negara-negara itu mempunyai tema dan logonya masing-masing.

Indonesia: 3-6 September

Paus Fransiskus berangkat dari Roma pada 2 September dan akan mendarat di Jakarta pada 3 September. Bapa Suci berada di Indonesia sampai 6 September. Paus ke-266 ini (terhitung sejak Rasul Petrus, Paus pertama) akan merupakan Paus ketiga yang datang ke bumi Nusantara. Paus pertama yang pernah ke Indonesia adalah Paus Paulus VI pada 3 Desember 1970, dan hanya berada di Jakarta. Paus kedua yang mengunjungi Indonesia adalah Paus Yohanes Paulus II pada 8-12 Oktober 1989, dan memimpin perayaan ekaristi di lima tempat di Indonesia: Jakarta, Yogyakarta, Maumere, Medan dan Dili (saat itu masih menyatu dengan Indonesia).

Tema perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia adalah Iman, Persaudaraan dan Belas Kasih (Faith-Fraternity-Compassion). Dalam logo tampak Paus Fransiskus dengan tangan terangkat untuk memberkati, berdiri di depan gambar burung Garuda dengan warna emas dan motif batik. Juga di dalamnya tampak peta Indonesia, negara kepulauan yang ditandai dengan beragamnya kelompok etnis dan sosial, bahasa, budaya, dan kepercayaan serta agama.

Papua Nugini: 6-9 September

Pada 6 September Paus Fransiskus akan berangkat menuju Papua Nugini, dan berada di sana hingga 9 September. Tema kunjungan ke Papua Nugini adalah “Berdoa”, yang diilhami oleh permohonan para murid kepada Yesus: “Tuhan, ajari kami berdoa” (Luk 11:1). Dengannya umat Papua Nugini memiliki kerinduan untuk belajar berdoa, dan untuk itu mereka mau mendapat bimbingan dari Paus Fransiskus.

Logonya adalah sebuah salib, yang digambarkan dalam warna-warna yang dimaksudkan untuk mengingatkan matahari terbit dan terbenam di Papua Nugini. Di salib itu terlihat seekor Burung Cendrawasih yang melambangkan Papua Nugini.

Timor-Leste: 9-11 September

Dari Papua Nugini, 9 September, Paus Fransiskus akan melakukan perjalanan ke Timor Leste, dan berada di pulau Timor bagian timur itu hingga 11 September. Visitasi ini mengambil tema: “Semoga Iman Anda Menjadi Budaya Anda” (Portugis: “Que a vossa fé seja a vossa culture”), sebuah nasihat kepada masyarakat Timor Leste untuk menghayati iman mereka sesuai dengan budaya dan tradisi mereka.

Dalam logo terlihat Paus Fransiskus mengangkat tangan untuk memberkati. Di belakangnya ada bola dunia, yang darinya muncul peta Timor Leste; dan di atas, ditulis dalam bentuk busur, adalah semboyan kunjungan kepausan.  

Singapura: 11-13 September

Perhentian terakhir Paus adalah negara kepulauan Singapura, yang akan ia kunjungi pada 11-13 September. Logo Perjalanan Apostolik ke Singapura menggambarkan sebuah salib bergaya, terinspirasi oleh bintang yang membimbing para Majus, oleh Ekaristi dan oleh lima bintang pada bendera Singapura. Di kedua sisi Salib terdapat semboyan Perjalanan Apostolik: “Persatuan—Harapan” (Unity-Hope).

Dengan kata Persatuan mau diungkapkan persekutuan dan keharmonisan di antara umat beriman, baik di dalam Gereja maupun dalam konteks masyarakat dan hubungan keluarga. Sementara itu, Harapan menunjukkan bahwa Perjalanan Apostolik akan menjadi mercusuar harapan bagi umat Kristiani di kawasan ini, terutama bagi mereka yang mengalami diskriminasi dan penganiayaan.

Sri Paus Fransiskus akan meninggalkan Asia pada 13 September.

Bersukacita dan Berdoa

Berita mengenai rencana Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus ke Asia merupakan berita sukacita. Ini merupakan momen yang amat langka. Marilah kita berdoa agar Sri Paus Fransiskus, yang pada 17 Desember tahun ini genap berusia 88 tahun, tetap sehat dan kuat, sehingga rencana perjalanan pastoralnya itu akan terwujud dengan baik.

Blasius S. Yesse

PARA PEZIARAH PENGHARAPAN (Peregrinantes in Spem)

Kamis, 9 Mei, bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, Sri Paus Fransiskus mengumumkan Jubileum Gereja Katolik tahun 2025, yang dimuat dalam Bulla Kepausan berjudul «Spes Non Confudit» (Harapan Tidak Mengecewakan), diambil dari Roma 5:5. Ini adalah Yubileum biasa, yang dilaksanakan setiap 25 tahun. Tahun Yubileum 2025 secara resmi akan dimulai dengan pembukaan Pintu Suci Basilika Santo Petrus pada Malam Natal 2024, dan berakhir dengan penutupan Pintu Suci itu pada 6 Januari 2026, Hari Raya Epifani Tuhan. Di bawah ini saya mencoba meringkas poin-poin penting dari bulla untuk Tahun Yubilem 2025 itu. Sub-sub judul yang saya cantumkan bukanlah sub judul dalam teks asli bulla itu.

Bulla Spes Non Confudit

Bulla Spes Non Confudit (pengharapan tidak mengecewakan) terdiri dari 25 nomor. Oleh Rasul Paulus sendiri, kata-kata itu ditujukan kepada umat kristen di Roma. Surat kepada Jemaat di Roma menandai titik balik yang menentukan dalam karya evangelisasinya. Sebelumnya, dia melakukan aktivitasnya di bagian timur Kekaisaran Romawi, namun kini dia beralih ke Roma dan segala arti Roma di mata dunia. Di hadapannya terbentang tantangan besar. Gereja Roma tidak didirikan oleh Paulus, namun ia merasa terdorong untuk bergegas ke sana untuk menyampaikan kepada semua orang Injil Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit dari kematian, sebuah pesan harapan yang menggenapi janji-janji kuno, menuntun menuju kemuliaan dan, atas dasar cinta, tidak mengecewakan (bdk. Rm. 5:1-2.5).  Melalui kata-kata Rasul Paulus itu Sri Paus berharap bahwa Yubileum ini menjadi momen perjumpaan pribadi yang sejati dengan Tuhan Yesus, “Pintu” (lih. Yoh 10:7.9) keselamatan kita, yang mana Gereja bertugas mewartakannya selalu, di mana saja dan kepada semua orang sebagai “pengharapan kita” (1 Tim 1:1). Sri Paus Fransiskus menggariskan bahwa harapan bersemayam dalam hati setiap orang sebagai keinginan dan kerinduan akan hal-hal baik yang akan datang, meskipun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Tahun Yubileum ini menjadi kesempatan untuk memperbarui harapan, di tengah-tengah situasi diri kita yang kadang-kadang pesimis, cemas dan khawatir.

Pengharapan Lahir dari Cinta

Pengharapan lahir dari cinta dan didasarkan pada cinta yang memancar dari hati Yesus yang tertusuk di kayu salib (bdk. Rm 5:19). Kehidupan itu terwujud dalam kehidupan iman kita, yang dimulai dengan Pembaptisan, berkembang dalam keterbukaan terhadap rahmat Allah dan dihidupi oleh harapan yang terus diperbarui dan diteguhkan oleh karya Roh Kudus.

Roh Kudus, melalui kehadiran-Nya yang abadi dalam kehidupan Gereja peziarah, menerangi semua orang percaya dengan cahaya pengharapan. Dia menjaga agar terang pengharapan itu tetap menyala, seperti pelita yang terus menyala, untuk menopang dan menguatkan kehidupan kita. Pengharapan Kristiani tidak menipu atau mengecewakan karena didasarkan pada kepastian bahwa tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm 8:35.37-39).

Santo Paulus sangat sadar bahwa hidup mempunyai suka dan duka, bahwa cinta diuji di tengah cobaan, dan harapan bisa pupus saat menghadapi penderitaan. Sekalipun demikian, ia dengan yakin mengatakan, “Kami bermegah dalam penderitaan kami, karena kami tahu, bahwa penderitaan menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan” (Rm. 5:3-4). Bagi Rasul, pencobaan dan kesengsaraan menandai kehidupan mereka yang memberitakan Injil di tengah ketidakpahaman dan penganiayaan (lih. 2Kor 6:3-10). Santo Paulus juga menggariskan pentingnya membangun kesabaran, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penghayatan akan pengharapan. Ia memberikan kesaksian tentang Allah yang penuh kesabaran, “Allah sumber segala kesabaran dan pemberi semangat” (Rm. 15:5). Kesabaran, salah satu buah Roh Kudus, menopang pengharapan kita dan memperkuatnya sebagai suatu kebajikan dan cara hidup. Interaksi antara pengharapan dan kesabaran membuat kita melihat dengan jelas bahwa kehidupan Kristiani adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan momen-momen yang lebih intens untuk mendorong dan mempertahankan pengharapan sebagai teman setia yang membimbing langkah-langkah kita menuju tujuan perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus.

Tahun Yubileum dan Pintu Suci

Sekilas memang tidak ada yang spesial dari Pintu Suci. Sama seperti pintu-pintu gereja yang lain, Pintu Suci menghubungkan antara bagian luar dan dalam gereja. Secara fisik yang membedakan adalah bahwa Pintu Suci memiliki ukiran-ukiran khas yang berupa gambar-gambar sejarah keselamatan umat manusia, atau gambar Yesus, Maria, dan Para Kudus, biasanya disertai lambang keuskupan/kepausan.

Secara simbolis, Pintu Suci menggambarkan Yesus Kristus sendiri. Dalam Injil  Yesus bersabda, “Akulah PINTU. Barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yoh. 10:9). Padang rumput di sini digambarkan sebagai Surga atau sebagai Allah Bapa, sumber segala keselamatan. Ruang Gereja adalah lambang ruang surgawi. Dalam bagian lain dari Injil Yohanes, Yesus bersabda, “Akulah JALAN, dan KEBENARAN, dan KEHIDUPAN. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:16).

Tahun Suci 2025 sendiri merupakan kelanjutan dari perayaan rahmat sebelumnya. Pada Yubileum Biasa yang terakhir, kita melewati ambang dua milenium sejak kelahiran Yesus Kristus. Lalu pada 13 Maret 2015, Sri Paus Fransiskus memproklamasikan Yubileum Luar Biasa demi memperkenalkan dan mendorong perjumpaan dengan “wajah kemurahan Tuhan”. Tahun Suci juga akan memandu langkah kita menuju perayaan mendasar lainnya bagi seluruh umat Kristiani, di mana pada tahun 2033 akan menandai peringatan dua ribu tahun penebusan yang dimenangkan melalui sengsara, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Dalam rangka Tahun Yubileum 2025,  Sri Paus akan membuka Pintu Suci dari empat Basilika Kepausan: Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan akan dibuka pada tanggal 24 Desember 2024, dengan demikian meresmikan Yubileum Biasa ini. Pada Minggu, 29 Desember 2024, dibuka Pintu Suci Basilika Santo Yohanes Lateran, yang pada 9 November tahun ini akan merayakan 1.700 tahun peresmiannya. Pada 1 Januari 2025, pada Hari Raya St. Maria Bunda Allah, akan dibuka Pintu Suci Basilika Kepausan Santa Maria Maggiore. Lalu pada Minggu, 5 Januari 2025, akan dibuka Pintu Suci Basilika Santo Paulus di Luar Tembok. Tiga Pintu Suci dari tiga basilika terakhir ini akan ditutup pada Minggu, 28 Desember 2025. Sri Paus juga menetapkan bahwa pada Minggu, tanggal 29 Desember 2024, di setiap katedral dan ko-katedral, para Uskup diosesan hendaknya merayakan Misa Kudus sebagai pembukaan Tahun Yobileum. Tahun Suci akan berakhir di Gereja-Gereja partikular pada hari Minggu, 28 Desember 2025. Sedangkan untuk Gereja Universal, Yubileum Biasa ini akan diakhiri dengan penutupan Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan pada 6 Januari 2026, Hari Raya Epifani Tuhan.

Menemukan Tanda-tanda Pengharapan

Sri Paus Fransiskus menandaskan lebih lanjut bahwa selain menemukan pengharapan pada kemurahan Tuhan, kita juga dipanggil untuk menemukan pengharapan pada tanda-tanda zaman yang Tuhan berikan kepada kita. Tanda-tanda zaman, termasuk kerinduan hati manusia yang membutuhkan penyertaan Tuhan, hendaknya menjadi tanda pengharapan. Tanda-tanda pengharapan itu harus diwujudkan secara konkret dalam kehidupan harian kita.

Tanda pertama dari adanya harapan adalah keinginan akan perdamaian di dunia kita, yang dinodai oleh tragedi perang. Kebutuhan akan perdamaian merupakan tantangan bagi kita semua, dan menuntut diambilnya langkah-langkah konkrit demi terciptanya perdamaian di planet bumi ini.

Menatap masa depan dengan harapan juga berarti memiliki semangat hidup dan kesiapan untuk berbagi. Keterbukaan terhadap kehidupan berarti pula bertanggung jawab adalah rancangan yang ditanamkan Sang Pencipta dalam hati dan tubuh pria dan wanita, sebuah misi yang Tuhan percayakan kepada pasangan dan cinta mereka. Keinginan kaum muda untuk melahirkan putra dan putri baru sebagai tanda keberhasilan cinta mereka menjamin masa depan setiap masyarakat.

Selama Tahun Suci, kita dipanggil untuk menjadi tanda harapan nyata bagi saudara-saudari kita yang mengalami kesulitan apa pun: karena dirampas kebebasannya, kurangnya kasih sayang, kurangnya rasa hormat terhadap diri mereka sendiri. Pemerintah perlu mengambil inisiatif yang bertujuan memulihkan harapan. Kata-kata Kitab Imamat perlu dikumandangkan terus, “Engkau harus menguduskan tahun kelima puluh dan engkau harus memberitakan kemerdekaan di seluruh negeri kepada seluruh penduduknya” (Imamat 25:10). Penetapan hukum Musa ini kemudian diterapkan oleh nabi Yesaya: “Tuhan telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang yang tertindas, untuk membalut orang-orang yang patah hati, untuk memberitakan kemerdekaan kepada orang-orang tawanan dan pembebasan kepada orang-orang tawanan, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan” (Yes 61:1-2). Yesus menjadikan kata-kata itu sebagai miliknya pada awal pelayanan-Nya, menampilkan diri-Nya sebagai penggenapan “tahun rahmat Tuhan” (lih. Luk 4:18-19).

Tanda-tanda harapan hendaknya juga diperlihatkan kepada orang sakit. Penderitaan mereka dapat diredakan melalui kedekatan dan kasih sayang orang-orang yang mengunjungi mereka. Karya belas kasihan juga merupakan karya pengharapan yang menimbulkan rasa syukur yang tak terhingga. Rasa terima kasih juga harus ditunjukkan kepada semua petugas layanan kesehatan yang, seringkali dalam kondisi genting, menjalankan misi mereka dengan perhatian dan kepedulian terus-menerus terhadap orang sakit dan mereka yang paling rentan.

Perhatian inklusif juga harus diberikan kepada semua orang yang berada dalam situasi sulit, yang mengalami kelemahan dan keterbatasan mereka sendiri, terutama mereka yang terkena penyakit atau kecacatan yang sangat membatasi kemandirian dan kebebasan pribadi mereka. Kepedulian yang diberikan kepada mereka adalah sebuah himne untuk martabat manusia, sebuah lagu harapan yang menyerukan partisipasi paduan suara dari masyarakat secara keseluruhan.

Tanda-tanda pengharapan juga dibutuhkan oleh mereka yang merupakan perwujudan pengharapan, yaitu kaum muda. Kita tidak boleh mengecewakan mereka, karena masa depan bergantung pada semangat mereka. Yubileum ini harus menginspirasi Gereja untuk melakukan upaya yang lebih besar untuk menjangkau mereka. Dengan semangat baru, kita dipanggil untuk menunjukkan kepedulian dan perhatian terhadap remaja, pelajar dan pasangan muda. Mereka adalah kebahagiaan dan harapan Gereja dan dunia!

Tanda-tanda harapan juga harus ada bagi para migran yang meninggalkan tanah air mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Harapan mereka tidak boleh digagalkan oleh prasangka dan penolakan. Orang-orang buangan, orang-orang yang terlantar dan pengungsi, yang terpaksa pindah karena ketegangan internasional untuk menghindari perang, kekerasan dan diskriminasi, harus diberikan jaminan keamanan dan akses terhadap pekerjaan dan pendidikan, serta sarana yang mereka perlukan untuk menemukan tempat mereka dalam konteks sosial yang baru. Kata-kata Tuhan Yesus hendaknya selalu bergema di hati kita: “Ketika Aku adalah orang asing dan kamu menyambut Aku” karena “sebagaiamana kamu lakukan kepada salah satu dari saudara-saudariku yang paling hina ini, kamu melakukannya kepada-Ku” (Mat 25:35.40).

Para lansia, yang sering merasa kesepian dan ditinggalkan, juga berhak mendapatkan tanda-tanda harapan. Menghargai harta karun yang mereka miliki, pengalaman hidup, kebijaksanaan dan kontribusi yang masih dapat mereka berikan, merupakan kewajiban komunitas Kristen dan masyarakat sipil. Kiranya mereka mendapat dukungan dan rasa terima kasih dari anak-anak mereka dan kasih sayang dari cucu-cucu mereka.

Sri Paus juga menggariskan  dengan sangat kuat agar harapan diberikan kepada miliaran orang miskin, yang seringkali kekurangan kebutuhan pokok dalam hidup. Kita tidak boleh menutup mata terhadap situasi dramatis kemiskinan yang kini kita temui di sekitar kita. Setiap hari kita bertemu dengan orang-orang yang miskin. Mereka bahkan mungkin adalah tetangga sebelah kita. Seringkali mereka menjadi tunawisma atau kekurangan makanan untuk sehari-hari. Mereka menderita karena pengucilan dan ketidakpedulian banyak orang. Sungguh memalukan bahwa di dunia yang memiliki sumber daya yang sangat besar, yang sebagian besar ditujukan untuk memproduksi senjata, masyarakat miskin tetap menjadi mayoritas dari populasi planet ini, yaitu miliaran orang. Mereka sering hanya menjadi objek wacana politik dan ekonomi, yang kemudian hanya menjadi korban.

Menggemakan pesan kuno para nabi, Yubileum mengingatkan kita bahwa harta benda bumi tidak diperuntukkan bagi segelintir orang yang mempunyai hak istimewa, tetapi untuk semua orang. Orang kaya harus bermurah hati dan tidak mengalihkan pandangan dari wajah saudara-saudarinya yang membutuhkan. Kelaparan adalah sebuah skandal, sebuah luka terbuka pada tubuh kemanusiaan kita. Paus meminta supaya membentuk dana global yang dapat mengakhiri kelaparan dan mendukung pembangunan di negara-negara paling miskin, sehingga warga negara mereka tidak melakukan tindakan kekerasan, atau harus meninggalkan negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih bermartabat. Berkenaan dengan realitas kemiskinan itu, Sri Paus memohon dengan sangat agar negara-negara makmur menghapus utang negara-negara yang tidak akan pernah mampu membayarnya kembali. Lebih dari sekedar persoalan kemurahan hati, ini adalah persoalan keadilan. Paus juga memberikan perhatian pada persoalan ekologis, khususnya mengenai ketidakseimbangan komersial yang berdampak pada lingkungan dan kehidupan serta penggunaan sumber daya alam yang tidak proporsional oleh negara-negara tertentu dalam jangka waktu yang lama. Paus menegaskan bahwa bumi adalah milik Tuhan dan kita semua yang tinggal di dalamnya sebagai “orang asing dan penghuninya” (Imamat 25:23). Jika kita benar-benar ingin mempersiapkan jalan menuju perdamaian di dunia ini, kita harus berkomitmen untuk memperbaiki penyebab ketidakadilan.

Memori akan Konsili Nicea

Tahun Yubileum 2025 juga bertepatan dengan tanggal yang penting bagi seluruh umat Kristiani, yaitu peringatan 1.700 tahun perayaan Konsili Ekumenis besar yang pertama, yaitu Konsili Nicea. Tahun Yubileum dapat berfungsi sebagai kesempatan penting untuk memberikan ekspresi konkret terhadap bentuk sinodalitas Gereja, yang oleh komunitas Kristen saat ini dianggap semakin diperlukan untuk menanggapi kebutuhan mendesak akan evangelisasi. Semua orang yang dibaptis, dengan karisma dan pelayanannya masing-masing, mempunyai tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa berbagai tanda pengharapan memberikan kesaksian akan kehadiran Allah di dunia.

Konsili Nicea berupaya menjaga kesatuan Gereja, yang terancam secara serius oleh penyangkalan terhadap keilahian penuh Yesus Kristus dan karenanya kesejajaran-Nya dengan Bapa. Konsili Nicea merupakan tonggak sejarah Gereja. Pada saat yang sama, Nicea mewakili seruan kepada semua Gereja dan Komunitas Gerejawi untuk bertekun di jalan menuju kesatuan yang nyata dan dalam mencari cara yang tepat untuk menanggapi sepenuhnya doa Yesus “agar mereka semua menjadi satu. Sama seperti Engkau, ya Bapa, yang ada di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, semoga mereka juga ada di dalam kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku” (Yoh. 17:21). Konsili Nicea juga membahas tanggal Paskah. Sampai hari ini, pendekatan yang berbeda terhadap pertanyaan ini menghalangi perayaan peristiwa fundamental iman kita pada hari yang sama. Untungnya, perayaan bersama akan terjadi pada tahun 2025. Semoga ini menjadi seruan bagi semua umat Kristiani, Timur dan Barat, untuk mengambil langkah maju menuju persatuan menjelang tanggal Paskah yang sama.

Pengharapan akan Kehidupan Kekal

Pengharapan, bersama dengan iman dan kasih, merupakan “kebajikan teologis” yang mengungkapkan inti kehidupan Kristiani (lih. 1 Kor 13:13; 1 Tes 1:3). Dalam kesatuannya yang tak terpisahkan, pengharapan merupakan keutamaan yang bisa dikatakan memberikan arah dan tujuan batin bagi kehidupan orang beriman. Oleh karena itu, Rasul Paulus mendorong kita untuk “bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam penderitaan, dan bertekun dalam doa” (Rm. 12:12). Tentunya kita perlu “berlimpah dalam pengharapan” (lih. Rom 15:13), sehingga kita dapat memberikan kesaksian yang dapat dipercaya dan menarik tentang iman dan kasih yang berdiam di dalam hati kita; agar iman kita bergembira dan amal kita bersemangat.

Kematian dan kebangkitan Yesus adalah inti iman kita dan dasar pengharapan kita. Santo Paulus menyatakan hal ini secara ringkas dengan menggunakan empat kata kerja: “Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, apa yang telah kuterima sendiri, yaitu bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci, dan dia menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas orang itu” (1 Kor 15:3-5). Kristus mati, dikuburkan, dibangkitkan dan menampakkan diri. Demi kita, Yesus mengalami drama kematian. Kasih Bapa membesarkan Dia dalam kuasa Roh Kudus, dan menjadikan kemanusiaan-Nya sebagai buah sulung dari keselamatan kekal kita. Pengharapan Kristiani justru terletak pada hal ini: bahwa dalam menghadapi kematian, yang tampaknya merupakan akhir dari segalanya, kita mempunyai kepastian bahwa, berkat kasih karunia Kristus yang diberikan kepada kita melalui Pembaptisan, “hidup diubah, bukan berakhir”. Dikuburkan bersama Kristus dalam Pembaptisan, dalam kebangkitan-Nya kita menerima anugerah kehidupan baru yang meruntuhkan tembok kematian, menjadikannya jalan menuju kekekalan.

Kesaksian paling meyakinkan mengenai harapan ini diberikan oleh para martir. Dengan teguh dalam iman mereka kepada Kristus yang telah bangkit, mereka meninggalkan kehidupan di dunia ini, daripada mengkhianati Tuhan mereka. Kita perlu menghargai kesaksian mereka, untuk meneguhkan harapan kita dan membiarkannya menghasilkan buah yang baik.

Sri Paus juga berbicara tentang penghakiman terakhir, yang harus dipahami dalam kasih Allah. Kita memang harus mempersiapkan diri kita secara sadar dan bijaksana untuk menghadapi saat ketika hidup kita akan diadili, namun kita harus selalu melakukan ini dari sudut pandang pengharapan, kebajikan teologis yang menopang hidup kita dan melindunginya dari ketakutan yang tidak berdasar. Penghakiman Allah, yang adalah kasih (lih. 1 Yoh 4:8.16), pasti akan didasarkan pada kasih (lih. Mat 25:31-46). Penghakiman itu harus dipahami sebagai hubungan kebenaran dengan Tuhan yang adalah kasih dan dalam misteri kemurahan ilahi yang tak terselami. Kitab Suci menyatakan: “Kamu telah mengajari umatmu bahwa orang benar harus baik hati, dan kamu telah memberi anak-anakmu harapan yang baik, karena kamu memberikan pertobatan atas dosa, sehingga… ketika kita diadili, kita dapat mengharapkan belas kasihan” (Kebijaksanaan 12 :19.22). Kejahatan yang telah kita lakukan tidak bisa disembunyikan; ia perlu dimurnikan untuk memungkinkan perjumpaan definitif dengan kasih Tuhan. Di sini kita mulai melihat perlunya doa-doa kita bagi semua orang yang telah mengakhiri ziarah duniawi mereka, suatu solidaritas kita dalam sebuah perantaraan yang efektif berdasarkan persekutuan para kudus, dan ikatan bersama yang menjadikan kita satu di dalam Kristus, yang sulung dari semua ciptaan. Indulgensi Yubileum, berkat kekuatan doa, dimaksudkan secara khusus bagi mereka yang telah mendahului kita, agar mereka dapat memperoleh belas kasihan sepenuhnya.

Sesungguhnya indulgensi merupakan salah satu cara untuk mengetahui sifat kemurahan Tuhan yang tidak terbatas. Sakramen Tobat meyakinkan kita bahwa Allah menghapuskan dosa-dosa kita. Kita merasakan kata-kata Mazmur yang penuh kuasa dan menghibur: “Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan setiap penyakitmu, yang menebus hidupmu dari kubur, yang memahkotai kamu dengan cinta dan kasih sayang… Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, penuh kasih, lambat marah dan kaya akan belas kasihan… Dia tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak pula membalas kita setimpal dengan kesalahan kita. Sebab seperti tingginya langit di atas bumi, begitu kuatnya kasih-Nya terhadap orang-orang yang takut kepadanya. Sejauh timur dari barat, sejauh itulah disingkirkannya dosa kita” (Mzm 103:3-4.8.10-12). Sakramen Rekonsiliasi bukan hanya merupakan anugerah rohani yang luar biasa, namun juga merupakan sebuah langkah yang menentukan, esensial dan mendasar dalam perjalanan iman kita. Di sana, kita mengizinkan Tuhan menghapus dosa-dosa kita, menyembuhkan hati kita, membangkitkan kita, memeluk kita dan memperlihatkan kepada kita wajah-Nya yang lembut dan penuh belas kasihan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengenal Tuhan selain membiarkan Dia mendamaikan kita  dengan diri-Nya sendiri (lih. 2 Kor 5:20) dan menikmati pengampunan-Nya. Namun, seperti yang kita ketahui dari pengalaman pribadi, setiap dosa “meninggalkan bekasnya”. Dalam kemanusiaan kita, yang lemah dan tertarik pada kejahatan, sisa-sisa dosa masih ada. Hal-hal ini dihilangkan melalui indulgensi, selalu melalui kasih karunia Kristus. Pengalaman pengampunan penuh ini membuka hati dan pikiran kita terhadap perlunya memaafkan orang lain. Pengampunan tidak mengubah masa lalu, namun membuka pintu yang memungkinkan kita untuk mengubah masa depan dan menjalani kehidupan yang berbeda, bebas dari kemarahan, permusuhan dan dendam. Pengampunan memungkinkan masa depan yang lebih cerah, yang memungkinkan kita melihat masa lalu dengan mata berbeda, kini lebih tenang, meski masih membawa jejak air mata masa lalu.

St. Maria Bunda Pengharapan

Harapan menemukan kesaksian tertingginya dalam diri Bunda Allah. Dalam diri Santa Perawan Maria, kita melihat bahwa harapan bukanlah optimisme yang naif, melainkan anugerah rahmat di tengah kenyataan hidup. Seperti setiap ibu, setiap kali Maria memandang Putranya, dia memikirkan masa depannya. Tentunya dia terus merenungkan dalam hatinya kata-kata yang disampaikan kepadanya di Bait Suci oleh Simeon: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan; dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35). Di kaki salib, dia menyaksikan penderitaan dan kematian Yesus, Putranya yang tidak bersalah. Karena diliputi kesedihan, dia tetap memperbarui “fiat”-nya, tidak pernah meninggalkan harapan dan kepercayaannya kepada Tuhan. Maria menjadi Bunda kita, Bunda Pengharapan. Bukan suatu kebetulan bahwa kesalehan masyarakat terus menyebut Perawan Terberkati sebagai Stella Maris, sebuah gelar yang mengungkapkan harapan pasti bahwa, di tengah badai kehidupan ini, Bunda Allah datang membantu kita, menopang kita dan mendorong kita untuk bertahan dalam harapan dan kepercayaan.

Penulis Kitab Ibrani menulis dengan sangat baik  mengenai sandaran harapan kita Kristus: “Semoga kita yang berlindung kepada-Nya diberi semangat yang kuat untuk meraih pengharapan yang ada di hadapan kita. Kita mempunyai pengharapan ini, suatu sauh jiwa yang teguh dan teguh, suatu pengharapan yang memasuki tempat suci di balik tirai, di mana Yesus, pendahulu kita, telah masuk” (Ibr. 6:18-20).

Tahun Yubileum akan menjadi Tahun Suci yang ditandai dengan harapan yang tidak pernah pudar kepada Tuhan. Penulis Kitab Mazmur meneguhkan kita, “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mazmur 27:14).

Selamat menyongsong Tahun Yubileum 2025, dengan iman, harapan dan kasih yang mendalam.

Blasius S. Yesse, pr

Kerasulan Mahasiswa dan Mahasiswi STP Dian Mandala di Stasi St. Titus Onowaembo, Paroki Kristus Gembala Baik

Minggu, 28 April 2024, sebanyak 14 mahasiswa dan mahasiswi STP Dian Mandala mengambil bagian dalam Perayaan Pesta Perak Stasi St. Titus Onowaembo, Paroki Kristus Gembala Baik Gunungsitoli. Kegiatan kerasulan ini didampingi oleh dosen STP Dian Mandala, RD. Blasius S. Yese. Sebagai salah satu bagian integral dari pembinaan dan pendidikan para calon tenaga pastoral di STP Dian Mandala, kegiatan kerasulan adalah salah satu bentuk pembelajaran di lapangan pastoral, sebab mahasiswa dan mahasiswi dapat melihat langsung realitas di lapangan. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh di bangku kuliah, sebab mereka ambil bagian dalam tugas tertentu di stasi atau paroki.

Perayaan Pesta Perak Stasi St. Titus tersebut terdiri dari dua bagian utama, yaitu perayaan ekaristi dan acara resepsi syukuran setelah ekaristi. Mahasiswa dan mahasiswi STP Dian Mandala membawakan beberapa lagu dalam perayaan ekaristi.

Salah satu hal menarik dalam perayaan syukur itu adalah bahwa OMK (Orang Muda Katolik) mendapat kepercayaan dari Dewan Pastoral Stasi untuk mengorganisasi perayaan syukur itu. OMK didampingi oleh seorang alumna STP Dian Mandala, Sdr. Katarina Laoli. Pada hari-hari sebelumnya stasi tersebut mengadakan pertandingan voli.

Seluruh perayaan berjalan dengan baik dan lancar.

Oleh: Blasyese