𝗦𝗘𝗡𝗬𝗨𝗠, 𝗦𝗔𝗣𝗔 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗔𝗟𝗔𝗠 (𝟯𝗦): 𝗛𝗜𝗟𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗔𝗥𝗘𝗡𝗔 𝗣𝗘𝗥𝗞𝗘𝗠𝗕𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗩𝗜𝗥𝗨𝗦 𝗞𝗢𝗥𝗢𝗡𝗔

Kat. Ingatan Sihura, S.Ag.

Sebut saja virus korona adalah virus yang mematikan. Memang sebutan tersebut benar adanya. Orang yang terjangkit virus korona, dapat meninggal dalam kurun waktu yang sangat singkat. Dengan keadaan seperti itu, semua orang menjadi was-was akan penularan penyakit tersebut kepadanya.

Untuk memutus penyebarannya, pemerintah baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah menganjurkan masyarakat untuk selalu waspada akan penyebaran virus korona ini. Salah satu himbauan pemerintah untuk memutus penyebaran virus korona adalah dengan selalu mengenakan masker penutup mulut dan menghindari kontak fisik kepada orang lain terlebih yang baru datang dari luar kota.

Himbauan dari pemerintah pada akhirnya menjadi tren yang dengan cepat berkembang di tengah masyarakat. Tren ini pun dapat bermakna baik juga sekaligus kurang baik. Menjadi tren yang baik adalah untuk memutus perkembangan virus korona. Akan tetapi, menjadi tren yang kurang baik ketika senyum, sapa dan salam yang selama ini menjadi budaya bersama menjadi hilang! Orang-orang mulai saling antisipasi satu sama lain.

Menggunakan Masker menghilangkan Budaya Senyum dan Sapa

Menggunakan masker dalam perjalanan sangatlah membantu untuk menghindari debu yang beterbangan. Namun, menggunakan masker ketika berjumpa dengan orang lain apalagi dengan berkata-kata, serasa hal ini kurang etis. Orang yang jika bertemu saling melempar senyum kini sudah tidak bisa karena terhalang masker. Dengan situasi seperti ini, orang tidak saling merasa senang untuk bertemu. Selanjutnya dengan menggunakan masker, pembicaraan menjadi sangatlah terganggu. Sapaan kata-kata yang dibarengi dengan sikap wajah menjadi tidak bisa dirasakan lagi. Sapaan akan pembicaraan hangat pun menjadi tidak harmonis lagi.

Tidak Kontak Fisik (Tidak Berjabat Tangan) menghilangkan Budaya Salam

Sebagai orang yang berbudaya, salaman menjadi suatu sarana kedekatan satu sama lain. Hampir separuh manusia di dunia jika bertemu akan bersalaman, hal ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam tatanan sosial dan budaya. Biasanya, orang yang bertemu dengan cepat dan spontan saling menyodorkan tangan untuk bersalaman. Namun dalam perkembangan virus korona, hal ini tidak lagi bisa dilakukan. Jangankan untuk berjabat tangan, bertemu saja harus menjaga jarak minimal satu meter.

Apakah dengan Menggunakan Masker dan Tidak Kontak Fisik (Tidak Berjabat Tangan) Dimaksudkan untuk Menghilangkan Budaya Senyum, Sapa dan Salam?

Pertanyaan semacam ini mengajak kita sejenak untuk melihat apakah himbauan pemerintah dimaksudkan untuk menghilangkan budaya? Tentu ini sangat tidaklah masuk akal. Pemerintah dalam mengeluarkan keputusan pastilah mempertimbangkan banyak hal. Menggunakan masker dan tidak kontak fisik (tidak berjabat tangan) dimaksudkan untuk menghindari penyebaran virus korona yang bisa menular dengan percikan air liur dan kontak fisik. Selanjutnya, pemerintah juga menawarkan pengganti salam yang selama ini dilakukan seperti membungkukan badan dan kepala atau dengan mengatupkan tangan di dada.

Pada akhirnya, himbauan pemerintah dimaksudkan bukan untuk menghilangkan budaya senyum, sapa dan salam! Pemerintah memberi himbauan ini dalam kurun waktu tertentu dan untuk memutus rantai penyebaran virus korona. Walaupun demikian, diharapkan juga untuk tidak terlena dengan situasi yang membuat lupa dengan budaya yang satu ini. Jika terlena, maka sangat dipastikan bahwa keraguan akan kebudaan senyum, sapa dan salam dapat hilang seiring dengan perkembangan virus korona ini.

Penulis,

Katekis Ingatan Sihura, S.Ag.

(Alumnus STP Dian Mandala)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *