Kerasulan Mahasiswa dan Mahasiswi STP Dian Mandala di Stasi St. Titus Onowaembo, Paroki Kristus Gembala Baik

Minggu, 28 April 2024, sebanyak 14 mahasiswa dan mahasiswi STP Dian Mandala mengambil bagian dalam Perayaan Pesta Perak Stasi St. Titus Onowaembo, Paroki Kristus Gembala Baik Gunungsitoli. Kegiatan kerasulan ini didampingi oleh dosen STP Dian Mandala, RD. Blasius S. Yese. Sebagai salah satu bagian integral dari pembinaan dan pendidikan para calon tenaga pastoral di STP Dian Mandala, kegiatan kerasulan adalah salah satu bentuk pembelajaran di lapangan pastoral, sebab mahasiswa dan mahasiswi dapat melihat langsung realitas di lapangan. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh di bangku kuliah, sebab mereka ambil bagian dalam tugas tertentu di stasi atau paroki.

Perayaan Pesta Perak Stasi St. Titus tersebut terdiri dari dua bagian utama, yaitu perayaan ekaristi dan acara resepsi syukuran setelah ekaristi. Mahasiswa dan mahasiswi STP Dian Mandala membawakan beberapa lagu dalam perayaan ekaristi.

Salah satu hal menarik dalam perayaan syukur itu adalah bahwa OMK (Orang Muda Katolik) mendapat kepercayaan dari Dewan Pastoral Stasi untuk mengorganisasi perayaan syukur itu. OMK didampingi oleh seorang alumna STP Dian Mandala, Sdr. Katarina Laoli. Pada hari-hari sebelumnya stasi tersebut mengadakan pertandingan voli.

Seluruh perayaan berjalan dengan baik dan lancar.

Oleh: Blasyese

Pesan Paus Fransiskus Untuk Masa Praspaskah 2021 “Sekarang kita pergi ke Yerusalem” (Mat 20:18)

Masa Prapaskah: Waktu untuk Memperbarui Iman, Harapan dan Kasih

Saudara dan saudari terkasih,

Yesus mengungkapkan kepada murid-murid-Nya makna terdalam perutusan-Nya ketika Ia memberitahu mereka tentang sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, sebagai penggenapan kehendak Bapa. Ia kemudian memanggil murid-murid-Nya untuk ambil bagian dalam perutusan ini demi keselamatan dunia.

Dalam perjalanan Prapaskah kita menuju Paskah, marilah kita mengingat Dia yang «telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib» (Flp 2:8). Selama masa pertobatan ini, marilah kita memperbarui iman kita, menimba dari «air hidup» harapan, dan dengan hati terbuka menerima kasih Allah, yang menjadikan kita saudara dan saudari di dalam Kristus. Pada malam Paskah, kita akan memperbarui janji baptisan kita dan mengalami kelahiran kembali sebagai manusia baru melalui karya Roh Kudus. Perjalanan Prapaskah ini, sebagaimana seluruh perjalanan peziarahan dalam kehidupan Kristiani, bahkan sekarang diterangi oleh cahaya kebangkitan, yang mengilhami pemikiran, sikap dan keputusan para pengikut Kristus.

Puasa, doa dan sedekah, seperti yang dikhotbahkan oleh Yesus (bdk. Mat 6:1-18), memungkinkan dan mengungkapkan pertobatan kita. Jalan kemiskinan dan penyangkalan diri (puasa), kepedulian dan kasih sayang kepada orang miskin (sedekah), dan seperti anak kecil berdialog dengan Bapa (doa) memungkinkan kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang tulus, harapan yang hidup dan memberlakukan amal kasih.

  • Iman memanggil kita untuk menerima kebenaran serta memberikan kesaksian terhadapnya di hadapan Allah dan semua saudara-saudari kita.

Dalam Masa Prapaskah ini, menerima dan menghayati kebenaran yang diwahyukan dalam Kristus berarti, pertama-tama, membuka hati kita terhadap sabda Allah, yang diwariskan Gereja dari generasi ke generasi. Kebenaran ini bukanlah konsep abstrak yang diperuntukkan bagi segelintir orang cerdas pilihan. Sebaliknya, kebenaran tersebut merupakan pesan yang dapat diterima dan dipahami oleh kita semua berkat kebijaksanaan hati yang terbuka terhadap kemuliaan Allah, yang mengasihi kita bahkan sebelum kita menyadarinya. Kristus sendiri adalah sang kebenaran ini. Dengan mengambil kemanusiaan kita, bahkan sampai melebihi batas-batasnya, Ia telah menjadikan diri-Nya jalan–menuntut, namun terbuka bagi semua orang–yang menuntun pada kepenuhan hidup.

Puasa, dialami sebagai bentuk penyangkalan diri, membantu orang-orang yang melakukannya dalam kesederhanaan hati untuk menemukan kembali karunia Allah serta menyadari bahwa, diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, kita menemukan pemenuhan diri kita di dalam Dia. Dengan merangkul pengalaman kemiskinan, mereka orang-orang yang berpuasa menjadikan dirinya miskin bersama kaum miskin serta mengumpulkan khazanah kasih baik yang diterima maupun yang dibagikan. Dengan cara ini, puasa membantu kita untuk mengasihi Allah dan sesama kita, karena kasih, seperti yang diajarkan Santo Thomas Aquino, adalah gerakan ke luar yang memusatkan perhatian kita pada sesama dan menganggap mereka satu dengan diri kita (bdk. Fratelli Tutti, 93).

Prapaskah adalah masa untuk percaya, menyambut Allah ke dalam hidup kita dan memperkenankan Dia untuk «berdiam» di antara kita (bdk. Yoh 14:23). Puasa melibatkan pembebasan dari semua yang membebani kita–seperti konsumerisme atau informasi berlebihan, entah benar atau salah–guna membuka pintu hati kita terhadap Dia yang datang kepada kita, miskin dalam segala hal, namun «penuh kasih karunia dan kebenaran» (Yoh 1:14) : Putra Allah, Sang Juruselamat kita.

  • Harapan sebagai «air hidup» yang memungkinkan kita melanjutkan perjalanan.

Perempuan Samaria di sumur, yang dimintai minum oleh Yesus, tidak mengerti apa yang dimaksudkan Yesus ketika Ia mengatakan bahwa Ia dapat memberikan «air hidup» (Yoh 4:10). Secara alami, ia berpikir bahwa yang dimaksudkan Yesus adalah air secara fisik, tetapi Yesus sedang berbicara tentang Roh Kudus yang akan dilimpahkan kepadanya melalui misteri Paskah, menganugerahkan harapan yang tidak mengecewakan. Yesus telah berbicara tentang harapan ini ketika, dalam menceritakan penderitaan dan wafat-Nya, Ia mengatakan bahwa Ia akan «dibangkitkan pada hari ketiga» (Mat 20:19). Yesus sedang berbicara tentang masa depan yang tersingkap oleh belas kasihan Bapa. Berharap bersama Dia dan oleh karena Dia berarti percaya bahwa sejarah tidak berakhir dengan kesalahan kita, kekerasan dan ketidakadilan kita, atau dosa yang menyalibkan Sang Kasih. Artinya, dari hati yang terbuka menerima pengampunan Bapa.

Di masa-masa sulit ini, ketika segala sesuatu tampak rapuh dan tidak pasti, mungkin tampak menantang untuk berbicara tentang harapan. Padahal Prapaskah justru merupakan masa harapan, saat kita berpaling kembali kepada Allah yang dengan sabar terus memelihara ciptaan-Nya yang selama ini sering kita perlakukan tidak benar (bdk. Laudato Si’, 32-33;43-44). Santo Paulus mendorong kita untuk menempatkan harapan kita dalam pendamaian: «didamaikan dengan Allah» (2 Kor 5:20). Dengan menerima pengampunan dalam sakramen yang terletak di jantung proses pertobatan kita, pada gilirannya kita dapat menyebarkan pengampunan kepada orang lain. Setelah menerima pengampunan, kita dapat menawarkannya melalui kesediaan kita untuk masuk ke dalam dialog yang penuh perhatian dengan orang lain dan memberikan penghiburan kepada orang-orang yang sedang mengalami kesedihan dan kepedihan. Pengampunan Allah, ditawarkan juga melalui perkataan dan perbuatan kita, memungkinkan kita untuk mengalami Paskah persaudaraan.

Dalam Prapaskah, semoga kita semakin peduli dengan «mengucapkan kata-kata penghiburan, kekuatan, pelipur dan penyemangat, dan bukan kata-kata yang merendahkan, menyedihkan, amarah atau menunjukkan cemoohan» (Fratelli Tutti, 223). Guna memberikan harapan kepada orang lain, kadang-kadang cukup dengan bersikap baik semata, «bersedia menyingkirkan segala sesuatu untuk menunjukkan minat, memberikan karunia berupa senyuman, mengucapkan kata-kata penyemangat, mendengarkan di tengah-tengah ketidakpedulian yang berlaku umum» (Fratelli Tutti, 224).

Melalui rekoleksi dan doa hening, harapan diberikan kepada kita sebagai inspirasi dan cahaya batin, menerangi tantangan dan pilihan yang kita hadapi dalam perutusan kita. Oleh karena itu, kebutuhan untuk berdoa (bdk. Mat 6:6) dan, secara diam-diam, berjumpa Bapa yang penuh kasih.

Mengalami Prapaskah dalam harapan memerlukan pertumbuhan dalam kesadaran bahwa, di dalam Yesus Kristus, kita adalah saksi-saksi zaman baru, yang di dalamnya Allah «menjadikan segala sesuatu baru» (bdk. Why 21:1-6). Mengalami Prapaskah berarti menerima harapan dari Kristus, yang memberikan nyawa-Nya di kayu salib dan dibangkitkan oleh Allah pada hari ketiga, dan selalu «siap sedia untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban [dari kita] tentang pengharapan yang ada pada [kita]» (1 Ptr 3:15).

  • Kasih, mengikuti jejak Kristus, dalam perhatian dan kasih sayang kepada semua orang, adalah ungkapan tertinggi dari iman dan harapan kita.

Kasih bersukacita melihat orang lain bertumbuh. Oleh karena itu kasih menderita ketika orang lain menderita, kesepian, sakit, tanpa tempat tinggal, dihina atau membutuhkan. Kasih adalah lompatan hati; ia membawa kita keluar dari diri sendiri dan menciptakan ikatan berbagi dan persekutuan.

«‹Kasih sosial› memungkinkannya untuk maju menuju peradaban kasih, yang kepadanya kita semua dapat merasa terpanggil. Dengan dorongannya menuju universalitas, kasih mampu membangun dunia baru. Bukan sekadar kepekaan perasaan, kasih adalah cara terbaik untuk menemukan jalan perkembangan yang berlaku bagi semua orang» (Fratelli Tutti, 183).

Kasih adalah karunia yang memberi makna pada kehidupan kita. Kasih memungkinkan kita untuk memandang orang-orang yang membutuhkan sebagai anggota keluarga, sebagai sahabat, saudara atau saudari kita. Jumlah yang kecil, jika diberikan dengan kasih, tidak pernah berakhir, tetapi menjadi sumber kehidupan dan kebahagiaan. Seperti halnya dengan tempayan berisi makanan dan buli-buli berisi minyak milik janda dari Sarfat, yang mempersembahkan sepotong roti bundar kecil kepada nabi Elia (bdk. 1 Raj 17:7-16); demikian juga halnya dengan roti yang diberkati, dipecah-pecahkan dan diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya untuk dibagikan kepada orang banyak (bdk. Mrk 6:30-44). Demikian juga halnya dengan sedekah kita, baik kecil maupun besar, ketika dipersembahkan dengan sukacita dan kesederhanaan.

Mengalami Prapaskah dengan kasih berarti peduli terhadap orang-orang yang menderita atau merasa ditinggalkan dan ketakutan karena pandemi Covid-19. Di hari-hari ketidakpastian yang mendalam berkenaan dengan masa depan, marilah kita mengingat sabda Tuhan kepada Hamba-Nya, «Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau» (Yes 43:1). Dalam amal kasih kita, semoga kita mengucapkan kata-kata kepastian dan membantu orang lain untuk menyadari bahwa Allah mengasihi mereka sebagai putra dan putri-Nya.

«Hanya pandangan yang diubah oleh kasih yang dapat memungkinkan martabat orang lain diakui dan, sebagai akibatnya, orang miskin diakui dan dihargai martabatnya, dihormati jatidiri dan budayanya, dan dengan demikian benar-benar disatupadukan ke dalam masyarakat» (Fratelli Tutti, 187).

Saudara dan saudari yang terkasih, setiap saat dalam kehidupan kita adalah waktu untuk percaya, berharap dan mengasihi. Panggilan untuk mengalami Prapaskah sebagai perjalanan pertobatan, doa dan berbagi kepunyaan kita, membantu kita–sebagai komunitas dan sebagai individu–untuk menghidupkan kembali iman yang berasal dari Kristus yang hidup, harapan yang diilhami oleh nafas Roh Kudus dan kasih mengalir dari hati Bapa yang penuh belas kasihan.

Semoga Maria, Bunda Sang Juruselamat, yang selalu setia di kaki salib dan di dalam hati Gereja, mendukung kita dengan kehadirannya yang penuh kasih. Semoga berkat Tuhan yang bangkit menyertai kita semua dalam perjalanan kita menuju terang Paskah.

Roma, Santo Yohanes Lateran, 11 November 2020,

Peringatan Santo Martinus dari Tours

Paus FRANSISKUS

Celakalah Aku, Bila Aku Tidak Memberitakan Injil

RD. Blasius S. Yese, Pr

Menarik merenungkan komitmen kerasulan dari Rasul Paulus, sebagaimana secara ringkas terungkap dalam judul tulisan ini. Kita mungkin masih ingat, di bawah tema «Dibaptis dan Diutus: Gereja Kristus dalam Misi di Dunia», Bapa Suci Paus Fransiskus menetapkan bulan Oktober 2019 yang lalu sebagai Bulan Misi Luar Biasa, sebagai salah satu bentuk peringatan seratus tahun Surat Apostolik Maximum Illud dari Paus Benediktus XV (30 Nopember 1919). Perayaan Bulan Misi Luar Biasa ini tentu lebih dari sekadar momen memorial, sebab, seperti kata Bapa Suci Paus Fransiskus,  menjadi kesempatan untuk «memperbaharui komitmen misionaris Gereja dan memberikan dorongan evangelisasi baru untuk pekerjaan pengabarannya dan membawa kepada dunia keselamatan Yesus Kristus, yang mati dan bangkit kembali» (Pesan Sri Paus Fransiskus untuk Hari Minggu Misi Sedunia 2019).

Memang amat penting menyadari dan memperbaharui semangat misioner kita selaku orang-orang terbaptis. Bisa saja, mungkin, kita lupa pada tugas perutusan itu. Kita tahu bahwa berkat Baptisan, kita ambil bagian dalam tiga jabatan atau tugas Kristus: nabi, imam dan raja. Menjadi misionaris kena pada tugas kenabian kita. Berkat Baptisan kita dikuduskan oleh Allah, dan selanjutnya «umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Yesus, dengan menyebarluaskan kesaksian hidup tentang-Nya terutama melalui hidup iman dan cinta kasih, pun pula dengan mempersembahkan kepada Allah korban pujian, buah hasil bibir yang mengaku nama-Nya» (Lumen Gentium 12). Penting digarisbawahi bahwa «tugas mewartakan Injil kepada semua orang meruakan misi hakiki Gereja» (Evangelii Nuntiandi art. 14).

Semangat Misioner Rasul Paulus

Menarik merenungkan semangat misioner Rasul Paulus. Kita ketahui bahwa, Rasul Paulus adalah Rasul yang luar biasa. Ia membawa Injil kepada bangsa-bangsa. Ia adalah seorang misionaris sejati. Baginya, memberitakan Injil merupakan suatu keharusan; sesuatu yang tidak punya alasan apapun untuk tidak dilaksanakan. «Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil» (1 Kor 9:16), demikian komitmen Rasul Paulus.  Rasul Paulus melihat tugas pewartaan Injil sebagai kepercayaan yang diberikan Tuhan kepadanya (1 Tes 2:4). Oleh karena itu, dia merasa tak punya alasan untuk memegahkan diri atau untuk menuntut upah atas tugas memberitakan injil itu (1 Kor 9:16). Ketulusan dan pemberian diri yang total dari Rasul Paulus itu terungkap dalam pernyataannya, «Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil».

Selain sebagai pemberita Injil, Rasul Paulus memiliki keterampilan dalam bertukang, yaitu membuat tenda (bdk. Kis 18:3). Keterampilan dalam bertukang itu menyokongnya dalam mengemban tugas sebagai pemberita injil. Ia tidak mau membebani orang lain. Dia bekerja keras untuk menghidupi dirinya, sehingga tidak menjadi beban bagi orang-orang yang kepada mereka warta injil disampaikan (bdk. 1 Tes 2:9; 2 Kor 12:13-15). Ia bahkan rela mengorbankan harta miliknya. Konsistensi Rasul Paulus pada pewartaan Injil dipertahankannya hingga akhir hidupnya. Kematiannya sebagai martir di Roma adalah konsekuensi dari sikap imannya, yang tidak mau diam untuk mewartakan Injil. Bagi Rasul Paulus, Yesus adalah segalanya. Dalam suratnya kepada umat di Filipi ia menulis bahwa setelah ia mengenal Yesus, semua yang lain yang dia miliki menjadi tidak ada artinya apapun. «Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan  berdasarkan kepercayaan» (Filipi 3:8-9).

Semangat misioner Rasul Paulus itu pantas kita teladani dalam mengemban tugas dan tanggung jawab kita sebagai misionaris atau orang yang mendapat perutusan Tuhan untuk memberitakan Injil. Rasul Paulus mewartakan Injil tidak hanya secara verbal, baik secara lisan maupun tertulis. Teladan hidupnya juga, antara lain tidak mau membebani orang lain, adalah cara hidup yang diinpirasi oleh Injil Kristus. Demikian juga, kerelaannya untuk berkorban hingga kemartirannya adalah salah satu bentuk pewartaan yang berdaya membawa banyak orang untuk mengimani Kristus.

Memanfaatkan Media

Situasi yang dialami para Rasul dulu, termasuk yang dialami oleh Rasul Paulus, amat jauh berbeda dengan situasi yang dihadapi sekarang ini, khususnya dalam hal ketersediaan fasilitas atau media pewartaan. Sarana transportasi sekarang ini amat membantu kita untuk bisa bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Selain itu, media sosial digital sangat memudahkan kita untuk makin akseleratif dalam mendekatkan Injil kepada banyak orang. Bapa Suci Paus Benediktus XVI pernah mengatakan, «Di dalam dunia digital terdapat jejaring-jejaring sosial yang memberikan peluang-peluang sezaman untuk berdoa, meditasi, dan berbagi firman Allah […] Dalam upaya untuk membuat Injil hadir dalam dunia digital, kita dapat mengundang orang untuk datang bersama-sama untuk berdoa dan perayaan liturgi di tempat-tempat tertentu seperti gereja dan kapel» [Pesan Paus (Emeritus) Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-47, tahun 2013].

Pemanfaatan media sosial digital untuk tujuan mewartakan Injil tentu tanpa mengabaikan perjumpaan langsung antarpribadi. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan dan dipahami secara purna lewat media sosial; dan hal-hal itu hanya bisa diatasi dengan perjumpaan langsung. Memanfaatkan media sosial sebagai media pewartaan Injil berarti menjadikannya sebagai «jembatan» untuk menyampaikan berita sukacita, kebenaran, kebaikan, keadilan, kedamaian dan pengharapan yang berasal dari Kristus. Bagi para murid Kristus, ketika media sosial dimanfaatkan untuk memberitakan Injil, maka dengan sendirinya berita hoax, provokatif dan destruktif tidak mendapat tempatnya lagi, sebab hal-hal itu bertentangan dengan hakikat Injil sebagai berita sukacita yang membawa keselamatan. Pemanfaatan media sosial untuk mewartakan Injil adalah bagian dari bentuk pewartaan verbal-tertulis.

Selain itu, memberitakan Injil bisa juga disampaikan melalui kesaksian hidup dan karya-karya kita. Hidup kita menjadi kesaksian injili bila nilai-nilai injili menjadi habitus hidup kita, antara lain: bersikap tulus dan jujur, bertanggung jawab dan dedikatif, bersikap peduli dan tidak egois, mau mengampuni dan tidak mendendam, bersikap rendah hati dan rela berkorban, bersikap adil dan mencintai tanpa pamrih. Karya-karya kita juga harus menjadi media untuk mewartakan Injil—apalagi bila karya dan pekerjaan kita berhubungan dengan kepentingan banyak orang. Karya kita menjadi media pewartaan Injil ketika karya itu merupakan karya yang baik dan benar, serta memberikan manfaat untuk kehidupan banyak orang. Dengan kata lain, karya kita menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Melalui semuanya itu, kita melaksanakan amanat agung dari Tuhan Yesus, «Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk» (Mrk 16:15).

Testimoni Mengenang 2 Tahun Wafatnya Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap., Uskup Keuskupan Sibolga

Hari ini kita mengenang 2 (dua) tahun meninggalnya Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap., Uskup Keuskupan Sibolga.
Kesan saya selama bekerjasama dengan almarhum utamanya saat saya sebagai Asisten DPPI Paroki St. Maria BPB Gunungsitoli, dan juga sebagai Dewan Pembina STP Dian Mandala, saya kelompokkan dalam 4 (empat) bagian:

Arah Pelayanan Pastoral, saya mencatat 2 hal.
Pertama, alm Mgr. Ludovicus telah meletakkan dasar arah berpastoral yg baik. Seingat saya, tidak lama setelah beliau diangkat sbg Uskup Keuskupan Sibolga, beliau mengumumkan pelaksanaan Sinode I Tahun 2010 di Sibolga, dan selanjutnya pelaksanaan Sinode II Tahun 2015 di Gunungsitoli. Melalui Sinode ini, ditetapkan arah berpastoral yang baik, sebagaimana yang ditetapkan dalam visi-misa-renstra keuskupan, yakni para petugas pastoral di masing-masing paroki harus melengkapi dokumen perencanaan mempedomani program yang telah ditetapkan dalam Renstra Keuskupan Sibolga, yang dilengkapi dengan indikator-indikator untuk mencapai target atau indikator-indikator untuk mencapai keberhasilan. Semua program dan kegiatan wajib dievaluasi secara berjenjang, baik evaluasi tengah tahunan maupun evaluasi tahunan, mulai dari tingkat stasi, rayon, paroki sampai tingkat keuskupan. Dengan demikian tidak ada lagi program kegiatan yang seporadis, tetapi semuanya harus terarah sesuai dengan Rencana Strategi untuk mewujudkan Visi Gereja Katolik Keuskupan Sibolga yang mandiri, solider dan membebaskan.
Kedua, menyangkut pengeloaan keuangan yang tertib, transparan, dan akuntabel. Alm Mgr. Ludovicus sudah meletakkan dasar dan arah yang baik dengan sistem segi tiga, yaitu Pastor Paroki, Dewan Keuangan, dan Bendahara/Kasir. Dengan sistem segi tiga ini, Pastor Paroki tidak dapat secara bebas mengeluarkan uang tanpa sepengetahuan Dewan Keuangan, sehingga lebih tertib, dan uang kas paroki sungguh dimanfaatkan dengan baik unutk membiayai program dan kegiatan yang telah ditetapkan.

Dalam hal pengambilan keputusan, alm Mgr. Ludovicus sangat berhati-hati, arif dan bijaksana, serta mengedepan keputusan yang win-win solution, sehingga keputusan atau kebijakan beliau dapat diterima oleh semua pihak. Untuk ini, saya melihat beliau tidak segan utk bertanya, menelpon, atau memanggil orang yang dimintai pendapat, sehingga beliau memperoleh informasi atau fakta tentang suatu persoalan. Ini kekhasan kepemimpinan beliau, sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen dalam pengambilan keputusan.

Alm Ludovicus seorang Gembala yang sederhana, rendah hati, dan dekat dg umat, dan juga dengan pihak eksternal gereja. Hal ini tampak kalau beliau berbicara dan juga saat menghadiri acara-acara atau kegiatan formal. Selesai memimpin Misa, biasanya Mgr Ludovicus segera menjumpai umat di halaman gereja, menyapa dan menyalam umat, tak terkecuali dengan anak-anak. Pembawaan kegembalaannya bersahaja dan berwibawa.

Alm. Mgr. Ludovicus, dlm tugas Magisterium Gereja, memikirkan bgm cara mempersiapkan dan meningkatkan kualitas petugas pastoral yg telah dirintis sebelumnya oleh Mgr Anicetus B. Sinaga, yakni meningkatkan status STP Dian Mandala dari jenjang Diploma ke Program S-1, dan memberdayakan fungsi STP Dian Mandala sebagai sentral pembibitan kader petugas pastoral, baik sebagai Katekis, Guru Agama, dan Petugas Pastoral.

Gunungsitoli,
20 September 2020

Oleh: Samson P. Zai, S.H., M.H.

Menjalani Hidup Normal Baru

Kita masih berada dalam kurungan pandemi Covid-19. Statistik korban Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda menurun. Korban terus bertambah dari hari ke hari secara fluktuatif, baik korban yang terkonfirmasi positif kena virus corona maupun korban meninggal dunia. Hingga pukul 15.00 WIB, 14 Juni 2020, menurut situs Worldometer, total korban terkonfirmasi virus corona di seluruh dunia sebanyak 7, 9 juta juta; dan di antaranya itu, ada lebih dari 433 ribu orang meninggal dunia dan hampir 4,1 juta orang sembuh. Di Indonesia, menurut laporan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, per 14 Juni 2020, ada 38.277 pasien yang terkonfirmasi kena virus corona. Dari jumlah tersebut, 2.134 meninggal dunia dan 14.531 dinyatakan sembuh. Sisanya sedang dalam perawatan. Melihat data itu, virus tersebut masih berada di sekitar kita. Menurut organisasi kesehatan sedunia, WHO (World Health Organization), sangat mungkin virus corona ini tidak akan hilang dari muka bumi.

Bila demikian, apa yang harus kita lakukan? Kita tentu saja tidak bisa mengurung diri terus dalam rumah dan menghentikan berbagai kegiatan dan pekerjaan hidup kita. Kegiatan-kegiatan usaha kita, baik perusahaan maupun kerajinan rumah tangga, harus terus beroperasi. Pelayanan-pelayanan publik, baik di instansi pemerintah maupun swasta, harus terus berjalan. Proses belajar mengajar dan perkuliahan tidak boleh berhenti. Oleh karena itu, salah satu sikap penting dalam menghadapi virus ini adalah beradaptasi dengannya. Dalam ungkapan Bapa Presiden RI, Jokowi, «Kita harus hidup berdampingan dengan Covid-19» (15 Mei 2020).

Adaptasi dalam Normal New Life

Tentang hidup berdampingan dengan Covid-19, Presiden Jokowi menerangkan lebih lanjut bahwa, «Berdampingan itu justru kita tidak menyerah, tapi menyesuaikan diri. Keselamatan masyarakat tetap harus menjadi prioritas. Kebutuhan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru» (Lih. Kompas.com pada 15 Mei 2020). Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, juga mengatakan hal yang sama. Bahwasanya, kita harus menjalani new normal life (hidup normal yang baru), karena ada banyak kebiasaan perilaku dan pekerjaan perlu dimodifikasi dan diadaptasikan dengan kondisi pendemi corona saat ini.

Menjadi pertanyaan kita adalah: «Apa konkretisasi dari hidup yang adaptif dan modifikatif sebagai cara hidup normal yang baru itu?» Sesungguhnya, apa yang selama ini kita lakukan sebagai tindakan adaptif dan antisipatif agar tidak terkena virus corona, akan menjadi kebiasaan yang normal dalam kehidupan harian kita.

Sejak virus corona memasuki wilayah Indonesia pada awal tahun ini, pemerintah belum menerapkan lockdown, baik secara nasional maupun per kawasan atau daerah tertentu. Kita berharap bahwa lockdown itu tidak akan diterapkan di negeri kita. Meskipun demikian, baik atas anjuran pemerintah maupun karena inisiatif masyarakat sendiri, dilakukan berbagai tindakan antisipatif untuk mencegah penularan virus tersebut. Mengingat penularan virus corona ini adalah melalui sentuhan langsung dengan pasien atau melalui materi yang dipakai atau disentuh pasien, serta masuk ke tubuh melalui mulut, mata dan hidung, maka social distancing dan physical distancing adalah sikap adaptif terhadap virus corona. Aplikasi dari social and physical distancing itu macam-macam: bersalaman tanpa berjabat tangan, kegiatan peribadatan dan belajar mengajar atau perkuliahan dilakukan lewat media sosial. Banyak kegiatan rapat dilakukan secara virtual. Demikian juga pekerjaan kantor, banyak dilakukan dari rumah saja (work from home). Selain itu, penting menjaga kebersihan, terutama kebersihan tangan, dan memakai masker.

Dalam perkembangan selanjutnya, pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk beberapa daerah yang persebaran virusnya cepat dan meluas. Daerah yang menerapkan PSBB umumnya masuk kategori zona merah. PSBB tidak menghentikan sama sekali kegiatan sosial masyarakat, tetapi sangat dibatasi. Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan perekonomian, sedapat mungkin tetap dilaksanakan dengan mengikuti protokol tertentu.

Mengingat bahwa virus corona ini, seperti dikatakan WHO, tidak akan hilang, ditambah lagi belum ditemukan obat dan vaksinnya, pemerintah kemudian mulai memberlakukan tata hidup yang baru. Salah satu pertimbangan mendasar dari penerapan tata hidup baru atau new normal life ini adalah agar roda perekonomian bisa bergerak. Pantas diingat bahwa jumlah anggaran Negara yang diperuntukkan bagi penanganan covid-19 ini, baik untuk tindakan pencegahan penyebaran virus dan pengobatan pasien maupun mengatasi dampak turunan lainnya—khususnya kelumpuhan perekonomian,  tidaklah sedikit. Bila situasi itu berlangsung lama, akibatnya akan lebih berat lagi, terutama untuk bidang perekonomian. Oleh karena itu, pemerintah menerapkan tata kehidupan normal yang baru.

Kedisiplinan menjadi Kunci

Penerapan tata hidup normal yang baru sudah mulai dilaksanakan selama ini, sejak virus corona memasuki wilayah kita. Hal-hal yang selama ini dilakukan sebagai tindakan antisipatif agar tidak tertular virus corona, akan menjadi kebiasaan hidup kita yang baru. Memakai masker, menjaga kebersihan terutama mencuci tangan lebih rajin, menjaga jarak, membatasi jumlah orang yang berkumpul dalam ruang publik, membatasi jumlah orang yang menggunakan moda transportasi umum dan lain sebagainya, akan menjadi kebiasaan yang normal dalam kehidupan kita.

Berhadapan dengan tata kehidupan yang baru itu, salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah kedisiplinan dalam mengikuti peraturan kesehatan. Kita harus konsisten mengikuti protokol kesehatan. Setiap warga masyarakat harus menempatkan diri sebagai gugus terdepan untuk mengatasi persebaran virus corona ini. Dengan bersikap disiplin atas ketentuan protokoler kesehatan, setiap orang tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri tetapi juga menyelamatkan hidup orang lain. Pelonggaran atas beberapa kegiatan sosial dalam tata hidup yang baru itu jangan sampai berubah menjadi pelanggaran. Bila demikian yang terjadi, persebaran virus itu bisa saja tak terbendung. Semoga kita memberikan perhatian yang serius pada ketentuan protokol kesehatan dalam menjalani tata hidup normal yang baru ini. Bila kita lalai, berarti novum atau kebaruan dalam tata hidup normal yang baru itu dengan sendirinya hilang. Memang, peduli pada kesehatan merupakan salah satu tantangan dalam hidup. Kesehatan adalah anugerah yang harus dijaga, dirawat dan dicintai. Tatkala kita berbicara mengenai pentingnya mencintai diri sendiri dan sesama, salah satu wujudnya adalah menghindari kebiasaan buruk yang dapat merusak kesehatan jiwa dan raga.

Blasius S. Yesse, pr.

POTRET: “AYO PEDULI – MARI BERBAGI”

Kisah Kaum Lemah

Kuburan bagi sebagian orang adalah tempat yang angker dan menyeramkan. Namun, tidak bagi sebuah keluarga ini. Adalah seorang ibu berusia 43 tahun dan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dengan rumah reyot sebagai tempat tinggal siang dan malam. Keduanya tinggal di rumah reyot berukuran 3×3 meter yang berlokasi di sekitar kuburan Cina – Onozitoli Kota Gunungsitoli. Menurut pengakuannya, kurang lebih 10 tahun lalu sang suami meninggal dunia dan selama 4 tahun sudah tinggal di sekitar kuburan tersebut. Bukan tak ingin hidup di tempat lebih layak bersama si buah hati tetapi hanya karena tak cukup pendapatannya untuk mengontrak rumah, apalagi membeli sebidang tanah di Kota Gunungsitoli, jelasnya.

Dalam potret saya saat itu, saya hanya mampu menyapa dan berbagi kasih kepada mereka dengan ala kadarnya. Sebelumnya, kegiatan seperti ini sudah saya jalankan di tempat yang berbeda untuk berbagi kasih kepada mereka yang pantas untuk ditanggung bebannya. Saya percaya bahwa sekecil apa pun yang diberikan maka sangat besar dan bermanfaat bagi mereka yang membutuhkannya. Selain itu, Saya sering mengatakan: “Percuma memberi kalau tunggu kaya, mustahil memberi bila tidak memiliki, tetapi berilah ketika memiliki meskipun dari keterbatasan”.

Menanamkan Sikap Peduli dan Berbagi kepada yang Lemah

Mungkin, kita sering mendengar anak-anak berteriak: “Punyaku! Punyaku!”. Begitulah sifat manusia sejak lahir. Manusia senantiasa ingin memiliki, semakin banyak maka semakin baik. Akibat dari sifat ini, kita cenderung kurang memedulikan kebutuhan orang lain. Karena itu, sikap jemaat perdana justru saling berbagi dengan penuh semangat dan sehati-sejiwa. Bila satu orang menderita, semua yang lain ikut menderita (Bdk. Kis. 4:32). Peduli dan berbagi salah satu bagian karakteristik utama kristiani, yakni kasih. Pemberian yang dilakukan dengan ikhlas kepada mereka yang membutuhkan meskipun dari keterbatasan, maka telah mewujudkan hukum utama dan terutama yaitu mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Bdk. Mat. 22:39).

Yesus Sang Penginjil dan yang kita imani telah menyamakan diri-Nya dengan mereka yang hina (Bdk. Mat. 25:40). Tentu, hal ini mengingatkan kita untuk menanamkan sikap peduli dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan pengharapan dan penghiburan, karena kita dipanggil untuk memperhatikan mereka yang lemah di sekitar kita. Untuk mengenali Kristus yang menderita, kita perlu memberi perhatian dan pendekatan kepada yang miskin dan rentan (Bdk. EG. 209-210). Di saat kita mewujudkan sikap peduli dan berbagi, maka kita telah melanjutkan karya Gereja. Kita sebagai warga Gereja, bertanggung jawab mengungkapkan kasih dengan mengusahakan kesejahteraan, menanggapi penderitaan dan kekurangan materiel setiap orang (Bdk. DC. 19).

Dalam dunia, terbagi menjadi kaya dan miskin serta penindas dan yang ditindas. Dari realitas ini, kita berkesempatan memiliki pilihan atau sikap mengutamakan kaum lemah atau orang miskin. Prioritas dalam hal ini adalah berhubungan untuk mengamalkan cinta kasih kristiani sebagai bentuk kesaksian iman yang dimiliki (Bdk. SRS. 42). Pilihan memperhatikan orang miskin dijalankan demi spiritualitas dalam usaha mengikuti hidup Yesus yang telah menyatakan diri-Nya dengan kaum miskin dan papa (Bdk. Flp. 2:5-8).

Pesan Yesus tentang menanamkan sikap peduli dan berbagi pada Mat. 25:40, merupakan nasihat kepada kita kaum beriman untuk terus beramal baik kepada sesama. Memberi adalah bentuk nyata dari cinta yang universal, cinta yang memberi tanpa pamrih. Perbuatan kasih menginspirasi dan mendorong setiap kita untuk berbagi. Sikap berbagi menjadi pernyataan bahwa kita mengasihi. Berikan semampu kita, berikan dengan ikhlas, hati terbuka dan dengan suka cita, sehingga kita menjadi berkat bagi orang lain karena hidup ini adalah kesempatan.   

Penulis,

Gizakiama Hulu, S.Ag., M.Ag.

(Dosen STP Dian Mandala)

Kisah Lockdwon di Oran 1945

“La Peste atau SAMPAR” adalah Novel Filsafat “berbau”  Eksistensialisme. Diterbitkan pada tahun 1947, dua tahun setelah kota Oran bebas dari epidemik.

Novel ini ditulis oleh Albert Camus berdasarkan kejadian nyata ketika pada tahun 1945 penduduk Oran (Aljazair) menjalani lockdown yang disebabkan oleh suatu epidemik.

Cerita dari kota Oran (Aljazair), diawali dengan suatu kejadian demikian ini: “Tikus yang jumlahnya ribuan ekor tiba-tiba mati!. Michel seorang karyawan di apartemen, yang ditempati oleh dokter Rieux, juga menemukan tikus-tikus mati. Namun, Michel dan dokter Bernard Rieux menganggap bahwa tikus mati tersebut, hanyalah lelucon pemuda pengangguran yang iseng. “Tapi! Jumlahnya kok! banyak, bahkan ribuan!!?”

Dan anehnya! tiba-tiba keadaan membaik. “TANDA” bahwa keadaan membaik yakni, tikus tidak ada lagi yang mati! “Merci!! Thanks you!”, demikian Penduduk Oran bersorak senang. Tetapi?!! ternyata TANDA tersebut yakni, secara mendadak tikus-tikus tidak ada lagi yang mati, ternyata, itulah! awal terjadinya epidemic di Oran. Pemerintah kota Oran memberlakukan lockdown.

1. Lockdown dan Solidaritas

Lockdown di kota Oran, dan keputusan untuk memilih tindakkan solidaritas oleh beberapa tokoh dalam Novel “La Peste atau SAMPAR”, digunakan Albert Camus untuk menjelaskan “apa artinya manusia?”.

Albert Camus menuliskan dalam Novel “La Peste” kalimat in: “MANUSIA BUKAN SEKEDAR IDE” (bdk. Pemahaman Aristoteles tentang manusia “Manusia=animale rationale”. Dan berkatalah Albert Camus: “seorang manusia, BARU bisa dikatakan manusia, ketika ia EKSIS/mengada atau KEKINIAN”.

Apa artinya eksis atau mengada atau KEKINIAN dalam konteks lockdown di Oran waktu itu?, yakni mencari jalan yang terbaik/ berusaha berjuang untuk berdamai dengan SAMPAR tetapi menolak menjadi korban. Eksis atau kekinian atau mengada, menurut Albert Camus: “semestinya dilandasi oleh kejujuran”.

Tindakkan kejujuran yang ditampilkan oleh tokoh dokter BERNARD RIEUX; JEAN TARROU; PANELOUX, SJ (Pastor dari serikat Yesus) menunjuk kepada tindakan perjuangan, yang disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki. Dan tindakan perjuangan tersebut disertai dengan passion!.

 Contoh KEKINIAN/eksis/meng-ADA yang dimiliki dokter Rieux yakni, merawat penduduk yang terkena sampar. Dan dokter Rieux bertindak sesuai dengan keahliaan yang ia miliki (JUJUR bahwa ia mampu dan kompoten di bidangnya).

2. Lockdwon dan Kematian

  • Mati adalah PERISTIWA biasa! Martin Haideger mengatakan bahwa “Manusia EKSIS/ mengada, dan akhirnya menuju kepada kematiaan”. Maka mati itu hal biasa! Semua pada akhirnya mati!
  • Lanjut Haideger: “Bekerja/ menyibukkan diri/ pergi keluar bersama kawan-kawan/ berkumpul bersama-sama, adalah CARA manusia untuk melupakan KEMATIAN. Dalam konteks Novel “La Peste” dikatakan demikian: “Tapi! Problemnya SEKARANG adalah LOCKDOWN, maka mekanisme Kamatian sulit dilupakan/ditolak. KEMATIAN ada di depan mata!”.
  • Mati adalah hal biasa! Tetapi! Yang mengerikan dalam konteks Novel “La Peste”, adalah CARA mati akibat SAMPAR itu!.
  • Konflik dan ketegangan

Berkatalah Albert Camus “biarkan dalam ketegangan, konflik tidak harus dicarikan jalan pemecahannya. Justru ketika konflik itu diterima, maka konflik itu akan memajukan kita. Dalam ketegangan, kita akan selalu terus mencari dan ingin terus berusaha berjuang untuk mengatasinya” (bdk. Prinsip Absurditas)

Albert Camus meyakini, adalah lebih berguna mencari dan melakukan HAL-HAL BAIK, daripada membuang waktu untuk memikirkan konflik dan ketegangan. Contoh konkrit hal baik dalam konteks Novel “La Peste” berjuangan untuk mengusahakan KUALITAS KEHIDUPAN.

Melakukan dan mencari hal-hal baik ketika lockdown di Oran, dikaitkan dengan syair Mikhail Lermontov (berkebangsaan Rusia), yang megatakan “a hero of everyday life” = para tokoh dalam kehidupan sehari-hari. Maka siapa saja mempunyai peluang untuk Eksis/KEKINIAN ala Albert Camus.

Penulis

Sr. Elisabet Subiati, SdC

𝗞𝗔𝗦𝗜𝗛 𝗠𝗘𝗡𝗬𝗔𝗧𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗣𝗘𝗥𝗕𝗘𝗗𝗔𝗔𝗡: 𝗕𝗘𝗥𝗦𝗔𝗧𝗨 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗞𝗘𝗕𝗘𝗥𝗔𝗚𝗔𝗠𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗡 𝗕𝗘𝗥𝗦𝗔𝗠𝗔 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗪𝗔𝗡 𝗖𝗢𝗩𝗜𝗗-𝟭𝟵

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan “Berbagi Kasih STP Dian Mandala” pada bulan April lalu dengan membagikan nasi kotak siap saji kepada tukang becak, orang berkebutuhan khusus (disabilitas), gelandangan/pengemis dan bantuan kebutuhan pokok kepada beberapa keluarga kurang mampu, maka STP Dian Mandala kembali “Berbagi Kasih” kepada keluarga-keluarga muslim yang kurang mampu dan kepada orang-orang yang bertemu di jalanan sekitar Kota Gunungsitoli (Jumat/8/5/2020). 

Di tengah pandemi Covid-19 dan bulan ramadhan penuh berkah yang sedang berlangsung, tidak sedikit orang yang membutuhkan uluran tangan sesamanya. Untuk itu, STP Dian Mandala tepa salira dengan apa yang dialami oleh sesama manusia dan sesama anak bangsa. Salah satu bentuk dari meringankan beban orang lain yaitu menyediakan 70 paket sembako kepada mereka yang membutuhkan.

Penyaluran paket sembako ini dimulai dari pagi hari dengan memberi pelayanan di halaman kampus STP Dian Mandala dan pada siang hari dilanjutkan untuk melayani beberapa keluarga dari pintu ke pintu serta menjumpai orang-orang yang berada di jalanan. Proses pembagian juga didampingi oleh beberapa dosen, pegawai dan mahasiswa.

Fransiskus T. S. Sinaga, S.Ag., M.Th., selaku Ketua STP Dian Mandala menuturkan bahwa “Pertama, sebagai komunitas akademisi STP Dian Mandala mau peduli dan bersolider dengan saudara-saudari muslim yang sedang berpuasa dalam situasi pandemi Covid-19 ini. Kedua, komunitas intelektual hendaknya mengedepan persaudaraan dan persahabatan yang inklusif. Ketiga, sebagai masyarakat Indonesia, harus tetap menjaga dan memelihara persaudaraan insani atau manusiawi karena kita NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Keempat, STP Dian Mandala langsung hadir di tengah masyarakat untuk mewujudkan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat”, jelasnya.

Sementara itu, salah seorang penerima paket sembako mengaku berterima kasih dan senang dengan adanya kegiatan ini. Karena menurutnya, kegiatan silaturahmi seperti ini seakan kami tersapa sebagai umat muslim. Hal ini tertera dalam tulisan spanduk, STP Dian Mandala Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa “Kasih Menyatukan Perbedaan: Bersatu dalam Keberagaman dan Bersama Melawan Covid-19”. Sekali lagi terima kasih, semoga kita bisa menjaga kerukunan bersama terutama di tengah pandemi Covid-19 yang mengguncangkan dunia saat ini, pungkasnya. 

Penulis, Gizakiama Hulu

MEMBACA = JENDELA PENGETAHUAN

Di suatu sore hari saat sedang santai membuka media sosial milik pribadi, saya tertarik melihat sebuah gambar karikatur. Dalam gambar itu, saya melihat bagaimana sederetan orang yang berbaju lusuh masuk ke lorong sebuah buku. Ketika mereka keluar dari lorong buku, sontak mereka mengenakan jas dan dasi. Hal yang lebih membuat saya tertarik adalah tulisan yang ada di bagian atas dan bagian bawah gambar itu: “A Good Book Can Change Your Life” (buku yang baik dapat mengubah hidup anda). Tidak hanya sampai di situ, saya kemudian membagikannya di status dan grup WhatsApp. Pelbagai tanggapan muncul dari teman-teman. Satu hal yang membuat saya tertarik yaitu teman-teman tahu dan menanggapi bahwa dengan membaca buku kita mendapat pelbagai ilmu pengetahuan. Namun ketika saya lanjutkan bertanya: “sudah berapa buku anda baca?”, mereka menjawab: “Itu dia, hingga saat ini masih belum ada waktu.”

Dari pengalaman di atas, saya menarik satu kesimpulan bahwa dengan membaca buku, kita mendapat begitu banyak pengetahuan. Akan tetapi, minat baca belum dimaksimalkan. Pelbagai alasan dijadikan sebagai “biang kerok” untuk tidak membaca buku, terutama soal waktu. Kesibukan dengan pekerjaan lain menjadi alasan utama.

Membaca memang hal yang sangat mudah, namun jika tidak membiasakan diri mustahil akan bisa terlaksana. Jika membaca hanya asal-asalan maka pembawaannya akan mengajak kita untuk ngantuk. Namun jika membaca dari hati, lembaran pertama akan menjadi pemancing untuk melihat halaman seterusnya. Mesti diingat bahwa “buku adalah guru yang tidak pernah marah”. Selanjutnya “buku adalah guru yang selalu setia menunggu kapan kita datang belajar dari padanya.”

Mari meningkatkan semangat membaca kita! Dengan membaca satu buku, satu pengetahuan kita dapatkan dan satu ketidaktahuan terpecahkan. Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan tokoh Nasional kita, Ki Hajar Dewantoro.

Penulis,

Kat. Ingatan Sihura, S.Ag.

(Alumnus STP Dian Mandala)

𝐒𝐩𝐢𝐫𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐓𝐚𝐰𝐚𝐤𝐚𝐥 𝐒𝐭. 𝐏𝐞𝐫𝐚𝐰𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐫𝐢𝐚

Kita sedang melintasi bulan kelima tahun ini. Dalam tradisi spiritual orang-orang Katolik, Mei (dan Oktober) didedikasikan secara kepada St. Perawan Maria, Ibu Yesus. Kita mengadakan perziarahan rohani bersamanya. Bersama dia, kita menghadap Allah untuk menyampaikan doa-doa kita.

Dalam rangka memasuki Mei sebagai Bulan Maria, pada 25 April 2020 yang lalu, Bapa Suci Paus Fransiskus menulis surat pendek kepada semua umat beriman Katolik. Dalam satu kesatuan dengan surat tersebut, Bapa Suci juga mengirim dua doa, yang bisa didaraskan oleh umat beriman. Mengingat pandemi Covid-19 ini, Paus mengatakan bahwa bila tidak bisa melaksanakan doa Rosario dalam kelompok, hendaklah tetap melakukannya secara pribadi. «Saya ingin mendorong setiap orang untuk menemukan kembali keindahan berdoa Rosario di rumah dalam bulan Mei. Hal ini dapat dilakukan baik secara berkelompok atau secara individu; kalian dapat memutuskan sesuai dengan situasi kalian», demikian Bapa Suci menulis.

Spiritualitas tawakal St. Perawan Maria

Salah satu spiritualitas yang sangat menonjol dalam diri St. Perawan Maria adalah sikap tawakalnya kepada Allah. Dia memercayakan diri sepenuhnya kepada Allah. Di hadapan malaikat Gabriel, ia menyatakan ketaatan imannya, «Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu!» (Luk 1:38). Sikap tawakal ini menjadi modal bagi Maria untuk menerima apapun dari Allah. Sikap itu menjadi pegangan sepanjang hidupnya. Ia tegar dan tenang menyikap situasi-situasi sulit dalam hidupnya, terutama yang berkaitan dengan misteri besar Allah dalam diri Yesus, Putera sematang wayangnya. Ia tidak frontal memrotes. Juga tidak tawar hati atas apa yang menjadi kehendak Allah atas dirinya. Ia tidak mundur dari komitmen imannya itu. Apa yang dikatakan oleh nabi Yeremia, kiranya bisa melukiskan sikap tawakal atau sikap iman Maria. «Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah»(Yer. 17: 7-8).

Sikap tawakal St. Perawan Maria itu seyogyanya menjadi rujukan bagi kita dalam belajar beriman. Kelebihan kita sebagai orang beriman adalah bahwa kita tidak pernah sendirian, sebab kita memiliki Tuhan yang selalu menyertai kita. Di tengah-tengah ujian akan iman dan kemanusiaan karena virus corona sekarang ini, sikap tawakal St. Perawan Maria kiranya menjadi model bagi kita. Sebagaimana Bapa Suci menulis (25 April 2020),  «merenungkan wajah Kristus dengan hati Maria, Bunda kita, bahkan akan menjadikan kita semakin bersatu sebagai sebuah keluarga rohani dan akan membantu kita mengatasi masa pencobaan ini». Oleh karena itu, waktu-waktu kita harus menjadi waktu-bersama-kita dengan Allah. Di situ kita akan memperoleh penghiburan rohani dan tetap berpengharapan bahwa badai yang membuat hidup tidak nyaman akan berlalu.

Menghadirkan Iman

Iman tidak sekadar membangun hubungan spiritual dengan Sang Ilahi. Iman harus menjadi cara hidup kita dalam membangun hidup harian dengan lingkungan semesta dan sesama kita. Dengan demikian, iman hadir dan tampak dalam pengalaman hidup yang konkret. Seperti kata Rasul Yakobus, «Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati» (Yak. 2:17). Oleh karena itu, kepedulian dalam meringankan beban hidup sesama yang menderita adalah percikan-percikan penghiburan dari Allah. Perbuatan-perbuatan baik yang lahir dari hati yang tulus untuk menolong satu sama lain adalah wujud konkret kehadiran Allah. Bapa Suci Paus Fransiskus dalam homilinya pada kesempatan adorasi Sakramen Mahakudus (Jumat, 27 Maret 2020) mengatakan, “Kita seperti sedang berada dalam sebuah perahu. Kita semua rapuh dan bingung. Tetapi pada saat yang sama, kita semua dipanggil untuk bersatu”. Kepedulian yang kita ungkapkan melalui tindakan dan perbuatan baik serta benar, tutur kata dan perilaku yang terpuji, sesungguhnya mengungkapkan kesatuan atau persekutuan kita sebagai sesama putera-puteri Allah. Kehadiran kita menjadi berkat bagi sesama justru karena kehadiran itu lahir dari hubungan spiritual dengan dan sikap tawakal kepada Allah. Hal itulah yang terjadi dalam perjumpaan St. Perawan Maria dengan Elisabet, saudarinya. Pengalaman perjumpaan mereka itu akan kita peringati secara istimewa di penghujung perziarahan kita di Bulan Maria ini. Saya menutup tulisan ini dengan penggalan doa yang ditulis oleh Bapa Suci Paus Fransiskus (25 April 2020), «Bantulah kami, Bunda Kasih Ilahi, untuk menyesuaikan diri dengan kehendak Bapa, dan melakukan apa yang dikatakan Yesus kepada kami. Karena Ia memikul penderitaan kami, dan membebani diri-Nya dengan kesedihan kami untuk membawa kami, melalui salib, menuju sukacita kebangkitan. Amin».

Penulis

Blasius S. Yese, S.Ag., M.Th.