TEMA DAN LOGO PERJALANAN APOSTOLIK PAUS FRANSISKUS KE ASIA

Kita sudah mendengar dan membaca di berbagai media sosial mengenai rencana perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Asia. Ini merupakan perjalanan terpanjangnya meninggalkan Vatikan, baik dari sisi lamanya waktu maupun jauhnya jarak yang ditempuh. Paus Fransiskus akan berada di empat negara pada 3-13 September 2024, yaitu: Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura. Kunjungan ke negara-negara itu mempunyai tema dan logonya masing-masing.

Indonesia: 3-6 September

Paus Fransiskus berangkat dari Roma pada 2 September dan akan mendarat di Jakarta pada 3 September. Bapa Suci berada di Indonesia sampai 6 September. Paus ke-266 ini (terhitung sejak Rasul Petrus, Paus pertama) akan merupakan Paus ketiga yang datang ke bumi Nusantara. Paus pertama yang pernah ke Indonesia adalah Paus Paulus VI pada 3 Desember 1970, dan hanya berada di Jakarta. Paus kedua yang mengunjungi Indonesia adalah Paus Yohanes Paulus II pada 8-12 Oktober 1989, dan memimpin perayaan ekaristi di lima tempat di Indonesia: Jakarta, Yogyakarta, Maumere, Medan dan Dili (saat itu masih menyatu dengan Indonesia).

Tema perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia adalah Iman, Persaudaraan dan Belas Kasih (Faith-Fraternity-Compassion). Dalam logo tampak Paus Fransiskus dengan tangan terangkat untuk memberkati, berdiri di depan gambar burung Garuda dengan warna emas dan motif batik. Juga di dalamnya tampak peta Indonesia, negara kepulauan yang ditandai dengan beragamnya kelompok etnis dan sosial, bahasa, budaya, dan kepercayaan serta agama.

Papua Nugini: 6-9 September

Pada 6 September Paus Fransiskus akan berangkat menuju Papua Nugini, dan berada di sana hingga 9 September. Tema kunjungan ke Papua Nugini adalah “Berdoa”, yang diilhami oleh permohonan para murid kepada Yesus: “Tuhan, ajari kami berdoa” (Luk 11:1). Dengannya umat Papua Nugini memiliki kerinduan untuk belajar berdoa, dan untuk itu mereka mau mendapat bimbingan dari Paus Fransiskus.

Logonya adalah sebuah salib, yang digambarkan dalam warna-warna yang dimaksudkan untuk mengingatkan matahari terbit dan terbenam di Papua Nugini. Di salib itu terlihat seekor Burung Cendrawasih yang melambangkan Papua Nugini.

Timor-Leste: 9-11 September

Dari Papua Nugini, 9 September, Paus Fransiskus akan melakukan perjalanan ke Timor Leste, dan berada di pulau Timor bagian timur itu hingga 11 September. Visitasi ini mengambil tema: “Semoga Iman Anda Menjadi Budaya Anda” (Portugis: “Que a vossa fé seja a vossa culture”), sebuah nasihat kepada masyarakat Timor Leste untuk menghayati iman mereka sesuai dengan budaya dan tradisi mereka.

Dalam logo terlihat Paus Fransiskus mengangkat tangan untuk memberkati. Di belakangnya ada bola dunia, yang darinya muncul peta Timor Leste; dan di atas, ditulis dalam bentuk busur, adalah semboyan kunjungan kepausan.  

Singapura: 11-13 September

Perhentian terakhir Paus adalah negara kepulauan Singapura, yang akan ia kunjungi pada 11-13 September. Logo Perjalanan Apostolik ke Singapura menggambarkan sebuah salib bergaya, terinspirasi oleh bintang yang membimbing para Majus, oleh Ekaristi dan oleh lima bintang pada bendera Singapura. Di kedua sisi Salib terdapat semboyan Perjalanan Apostolik: “Persatuan—Harapan” (Unity-Hope).

Dengan kata Persatuan mau diungkapkan persekutuan dan keharmonisan di antara umat beriman, baik di dalam Gereja maupun dalam konteks masyarakat dan hubungan keluarga. Sementara itu, Harapan menunjukkan bahwa Perjalanan Apostolik akan menjadi mercusuar harapan bagi umat Kristiani di kawasan ini, terutama bagi mereka yang mengalami diskriminasi dan penganiayaan.

Sri Paus Fransiskus akan meninggalkan Asia pada 13 September.

Bersukacita dan Berdoa

Berita mengenai rencana Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus ke Asia merupakan berita sukacita. Ini merupakan momen yang amat langka. Marilah kita berdoa agar Sri Paus Fransiskus, yang pada 17 Desember tahun ini genap berusia 88 tahun, tetap sehat dan kuat, sehingga rencana perjalanan pastoralnya itu akan terwujud dengan baik.

Blasius S. Yesse

TURUT BERDUKACITA BERSAMA FRISKA ZAGOTO, MAHASISWA SEMESTER 8 ATAS MENINGGALNYA AYAH TERCINTA

Pada tanggal 7 Mei 2024, Civitas Akademika STP Dian Mandala Gunungsitoli, dikejutkan oleh berita duka dari keluarga Friska Zagoto, mahasiswa semester 8, karena ayahanda telah dipanggil Tuhan di Padang. Jenazah ayahanda Sdri. Friska Zagoto telah diberangkatkan dari Padang ke Nias pada tanggal 8 Mei dan tiba tanggal 9 Mei 2024 pagi hari di rumah keluarga di Stasi St. Teresia Bonia – So’onogeu, Paroki Santa Perawan Maria diangkat ke Surga Telukdalam luar kota.
Sebagai ungkapan turut berdukacita dari pihak STP Dian Mandala, telah diutus dosen dan mahasiswa ke rumah duka untuk melayat sekaligus berdoa serta memberikan penghiburan kepada keluarga Sdri. Friska Zagoto dan kakak sulungnya Nidarmawati Zagoto, yang adalah alumni STP Dian Mandala Gunungsitoli tahun 2022. Adapun utusan dari Kampus STP Dian Mandala dalam kegiatan melayat ini adalah 4 orang Dosen: P. Sergius Lay, OFMCap; Sr. Caroline Naibaho, KYM; ibu Leoni Luahambowo, M.Psi; dan ibu Martina Marbun, M.Hum; serta 14 orang mahasiswa semester 8 dan utusan dari Senat Mahasiswa (SEMA).

Setibanya di rumah duka, utusan STP Dian Mandala beristirahat sejenak, lalu melanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh P. Sergius Lay, OFMCap dan disusul dengan ucapan turut berduka cita oleh Sr. Caroline KYM dan dari mahasiswa. Setelah melaksanakan doa-doa di rumah duka, para dosen dan mahasiswa diundang untuk makan siang di rumah tetangga, dan setelah itu langsung bersiap-siap untuk kembali ke Gunungsitoli mengingat hari telah sore dan perjalanan yang cukup jauh.
Semoga dengan kunjungan ini, Sdri. Friska dan Nidar bersama keluarga besar tetap kuat dalam iman dan menerima peristiwa ini dengan hati yang ikhlas.
Selamat jalan ke surga Ama Nidar….

[13/05/2024, psl]

PARA PEZIARAH PENGHARAPAN (Peregrinantes in Spem)

Kamis, 9 Mei, bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, Sri Paus Fransiskus mengumumkan Jubileum Gereja Katolik tahun 2025, yang dimuat dalam Bulla Kepausan berjudul «Spes Non Confudit» (Harapan Tidak Mengecewakan), diambil dari Roma 5:5. Ini adalah Yubileum biasa, yang dilaksanakan setiap 25 tahun. Tahun Yubileum 2025 secara resmi akan dimulai dengan pembukaan Pintu Suci Basilika Santo Petrus pada Malam Natal 2024, dan berakhir dengan penutupan Pintu Suci itu pada 6 Januari 2026, Hari Raya Epifani Tuhan. Di bawah ini saya mencoba meringkas poin-poin penting dari bulla untuk Tahun Yubilem 2025 itu. Sub-sub judul yang saya cantumkan bukanlah sub judul dalam teks asli bulla itu.

Bulla Spes Non Confudit

Bulla Spes Non Confudit (pengharapan tidak mengecewakan) terdiri dari 25 nomor. Oleh Rasul Paulus sendiri, kata-kata itu ditujukan kepada umat kristen di Roma. Surat kepada Jemaat di Roma menandai titik balik yang menentukan dalam karya evangelisasinya. Sebelumnya, dia melakukan aktivitasnya di bagian timur Kekaisaran Romawi, namun kini dia beralih ke Roma dan segala arti Roma di mata dunia. Di hadapannya terbentang tantangan besar. Gereja Roma tidak didirikan oleh Paulus, namun ia merasa terdorong untuk bergegas ke sana untuk menyampaikan kepada semua orang Injil Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit dari kematian, sebuah pesan harapan yang menggenapi janji-janji kuno, menuntun menuju kemuliaan dan, atas dasar cinta, tidak mengecewakan (bdk. Rm. 5:1-2.5).  Melalui kata-kata Rasul Paulus itu Sri Paus berharap bahwa Yubileum ini menjadi momen perjumpaan pribadi yang sejati dengan Tuhan Yesus, “Pintu” (lih. Yoh 10:7.9) keselamatan kita, yang mana Gereja bertugas mewartakannya selalu, di mana saja dan kepada semua orang sebagai “pengharapan kita” (1 Tim 1:1). Sri Paus Fransiskus menggariskan bahwa harapan bersemayam dalam hati setiap orang sebagai keinginan dan kerinduan akan hal-hal baik yang akan datang, meskipun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Tahun Yubileum ini menjadi kesempatan untuk memperbarui harapan, di tengah-tengah situasi diri kita yang kadang-kadang pesimis, cemas dan khawatir.

Pengharapan Lahir dari Cinta

Pengharapan lahir dari cinta dan didasarkan pada cinta yang memancar dari hati Yesus yang tertusuk di kayu salib (bdk. Rm 5:19). Kehidupan itu terwujud dalam kehidupan iman kita, yang dimulai dengan Pembaptisan, berkembang dalam keterbukaan terhadap rahmat Allah dan dihidupi oleh harapan yang terus diperbarui dan diteguhkan oleh karya Roh Kudus.

Roh Kudus, melalui kehadiran-Nya yang abadi dalam kehidupan Gereja peziarah, menerangi semua orang percaya dengan cahaya pengharapan. Dia menjaga agar terang pengharapan itu tetap menyala, seperti pelita yang terus menyala, untuk menopang dan menguatkan kehidupan kita. Pengharapan Kristiani tidak menipu atau mengecewakan karena didasarkan pada kepastian bahwa tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm 8:35.37-39).

Santo Paulus sangat sadar bahwa hidup mempunyai suka dan duka, bahwa cinta diuji di tengah cobaan, dan harapan bisa pupus saat menghadapi penderitaan. Sekalipun demikian, ia dengan yakin mengatakan, “Kami bermegah dalam penderitaan kami, karena kami tahu, bahwa penderitaan menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan” (Rm. 5:3-4). Bagi Rasul, pencobaan dan kesengsaraan menandai kehidupan mereka yang memberitakan Injil di tengah ketidakpahaman dan penganiayaan (lih. 2Kor 6:3-10). Santo Paulus juga menggariskan pentingnya membangun kesabaran, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penghayatan akan pengharapan. Ia memberikan kesaksian tentang Allah yang penuh kesabaran, “Allah sumber segala kesabaran dan pemberi semangat” (Rm. 15:5). Kesabaran, salah satu buah Roh Kudus, menopang pengharapan kita dan memperkuatnya sebagai suatu kebajikan dan cara hidup. Interaksi antara pengharapan dan kesabaran membuat kita melihat dengan jelas bahwa kehidupan Kristiani adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan momen-momen yang lebih intens untuk mendorong dan mempertahankan pengharapan sebagai teman setia yang membimbing langkah-langkah kita menuju tujuan perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus.

Tahun Yubileum dan Pintu Suci

Sekilas memang tidak ada yang spesial dari Pintu Suci. Sama seperti pintu-pintu gereja yang lain, Pintu Suci menghubungkan antara bagian luar dan dalam gereja. Secara fisik yang membedakan adalah bahwa Pintu Suci memiliki ukiran-ukiran khas yang berupa gambar-gambar sejarah keselamatan umat manusia, atau gambar Yesus, Maria, dan Para Kudus, biasanya disertai lambang keuskupan/kepausan.

Secara simbolis, Pintu Suci menggambarkan Yesus Kristus sendiri. Dalam Injil  Yesus bersabda, “Akulah PINTU. Barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yoh. 10:9). Padang rumput di sini digambarkan sebagai Surga atau sebagai Allah Bapa, sumber segala keselamatan. Ruang Gereja adalah lambang ruang surgawi. Dalam bagian lain dari Injil Yohanes, Yesus bersabda, “Akulah JALAN, dan KEBENARAN, dan KEHIDUPAN. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:16).

Tahun Suci 2025 sendiri merupakan kelanjutan dari perayaan rahmat sebelumnya. Pada Yubileum Biasa yang terakhir, kita melewati ambang dua milenium sejak kelahiran Yesus Kristus. Lalu pada 13 Maret 2015, Sri Paus Fransiskus memproklamasikan Yubileum Luar Biasa demi memperkenalkan dan mendorong perjumpaan dengan “wajah kemurahan Tuhan”. Tahun Suci juga akan memandu langkah kita menuju perayaan mendasar lainnya bagi seluruh umat Kristiani, di mana pada tahun 2033 akan menandai peringatan dua ribu tahun penebusan yang dimenangkan melalui sengsara, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Dalam rangka Tahun Yubileum 2025,  Sri Paus akan membuka Pintu Suci dari empat Basilika Kepausan: Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan akan dibuka pada tanggal 24 Desember 2024, dengan demikian meresmikan Yubileum Biasa ini. Pada Minggu, 29 Desember 2024, dibuka Pintu Suci Basilika Santo Yohanes Lateran, yang pada 9 November tahun ini akan merayakan 1.700 tahun peresmiannya. Pada 1 Januari 2025, pada Hari Raya St. Maria Bunda Allah, akan dibuka Pintu Suci Basilika Kepausan Santa Maria Maggiore. Lalu pada Minggu, 5 Januari 2025, akan dibuka Pintu Suci Basilika Santo Paulus di Luar Tembok. Tiga Pintu Suci dari tiga basilika terakhir ini akan ditutup pada Minggu, 28 Desember 2025. Sri Paus juga menetapkan bahwa pada Minggu, tanggal 29 Desember 2024, di setiap katedral dan ko-katedral, para Uskup diosesan hendaknya merayakan Misa Kudus sebagai pembukaan Tahun Yobileum. Tahun Suci akan berakhir di Gereja-Gereja partikular pada hari Minggu, 28 Desember 2025. Sedangkan untuk Gereja Universal, Yubileum Biasa ini akan diakhiri dengan penutupan Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan pada 6 Januari 2026, Hari Raya Epifani Tuhan.

Menemukan Tanda-tanda Pengharapan

Sri Paus Fransiskus menandaskan lebih lanjut bahwa selain menemukan pengharapan pada kemurahan Tuhan, kita juga dipanggil untuk menemukan pengharapan pada tanda-tanda zaman yang Tuhan berikan kepada kita. Tanda-tanda zaman, termasuk kerinduan hati manusia yang membutuhkan penyertaan Tuhan, hendaknya menjadi tanda pengharapan. Tanda-tanda pengharapan itu harus diwujudkan secara konkret dalam kehidupan harian kita.

Tanda pertama dari adanya harapan adalah keinginan akan perdamaian di dunia kita, yang dinodai oleh tragedi perang. Kebutuhan akan perdamaian merupakan tantangan bagi kita semua, dan menuntut diambilnya langkah-langkah konkrit demi terciptanya perdamaian di planet bumi ini.

Menatap masa depan dengan harapan juga berarti memiliki semangat hidup dan kesiapan untuk berbagi. Keterbukaan terhadap kehidupan berarti pula bertanggung jawab adalah rancangan yang ditanamkan Sang Pencipta dalam hati dan tubuh pria dan wanita, sebuah misi yang Tuhan percayakan kepada pasangan dan cinta mereka. Keinginan kaum muda untuk melahirkan putra dan putri baru sebagai tanda keberhasilan cinta mereka menjamin masa depan setiap masyarakat.

Selama Tahun Suci, kita dipanggil untuk menjadi tanda harapan nyata bagi saudara-saudari kita yang mengalami kesulitan apa pun: karena dirampas kebebasannya, kurangnya kasih sayang, kurangnya rasa hormat terhadap diri mereka sendiri. Pemerintah perlu mengambil inisiatif yang bertujuan memulihkan harapan. Kata-kata Kitab Imamat perlu dikumandangkan terus, “Engkau harus menguduskan tahun kelima puluh dan engkau harus memberitakan kemerdekaan di seluruh negeri kepada seluruh penduduknya” (Imamat 25:10). Penetapan hukum Musa ini kemudian diterapkan oleh nabi Yesaya: “Tuhan telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang yang tertindas, untuk membalut orang-orang yang patah hati, untuk memberitakan kemerdekaan kepada orang-orang tawanan dan pembebasan kepada orang-orang tawanan, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan” (Yes 61:1-2). Yesus menjadikan kata-kata itu sebagai miliknya pada awal pelayanan-Nya, menampilkan diri-Nya sebagai penggenapan “tahun rahmat Tuhan” (lih. Luk 4:18-19).

Tanda-tanda harapan hendaknya juga diperlihatkan kepada orang sakit. Penderitaan mereka dapat diredakan melalui kedekatan dan kasih sayang orang-orang yang mengunjungi mereka. Karya belas kasihan juga merupakan karya pengharapan yang menimbulkan rasa syukur yang tak terhingga. Rasa terima kasih juga harus ditunjukkan kepada semua petugas layanan kesehatan yang, seringkali dalam kondisi genting, menjalankan misi mereka dengan perhatian dan kepedulian terus-menerus terhadap orang sakit dan mereka yang paling rentan.

Perhatian inklusif juga harus diberikan kepada semua orang yang berada dalam situasi sulit, yang mengalami kelemahan dan keterbatasan mereka sendiri, terutama mereka yang terkena penyakit atau kecacatan yang sangat membatasi kemandirian dan kebebasan pribadi mereka. Kepedulian yang diberikan kepada mereka adalah sebuah himne untuk martabat manusia, sebuah lagu harapan yang menyerukan partisipasi paduan suara dari masyarakat secara keseluruhan.

Tanda-tanda pengharapan juga dibutuhkan oleh mereka yang merupakan perwujudan pengharapan, yaitu kaum muda. Kita tidak boleh mengecewakan mereka, karena masa depan bergantung pada semangat mereka. Yubileum ini harus menginspirasi Gereja untuk melakukan upaya yang lebih besar untuk menjangkau mereka. Dengan semangat baru, kita dipanggil untuk menunjukkan kepedulian dan perhatian terhadap remaja, pelajar dan pasangan muda. Mereka adalah kebahagiaan dan harapan Gereja dan dunia!

Tanda-tanda harapan juga harus ada bagi para migran yang meninggalkan tanah air mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Harapan mereka tidak boleh digagalkan oleh prasangka dan penolakan. Orang-orang buangan, orang-orang yang terlantar dan pengungsi, yang terpaksa pindah karena ketegangan internasional untuk menghindari perang, kekerasan dan diskriminasi, harus diberikan jaminan keamanan dan akses terhadap pekerjaan dan pendidikan, serta sarana yang mereka perlukan untuk menemukan tempat mereka dalam konteks sosial yang baru. Kata-kata Tuhan Yesus hendaknya selalu bergema di hati kita: “Ketika Aku adalah orang asing dan kamu menyambut Aku” karena “sebagaiamana kamu lakukan kepada salah satu dari saudara-saudariku yang paling hina ini, kamu melakukannya kepada-Ku” (Mat 25:35.40).

Para lansia, yang sering merasa kesepian dan ditinggalkan, juga berhak mendapatkan tanda-tanda harapan. Menghargai harta karun yang mereka miliki, pengalaman hidup, kebijaksanaan dan kontribusi yang masih dapat mereka berikan, merupakan kewajiban komunitas Kristen dan masyarakat sipil. Kiranya mereka mendapat dukungan dan rasa terima kasih dari anak-anak mereka dan kasih sayang dari cucu-cucu mereka.

Sri Paus juga menggariskan  dengan sangat kuat agar harapan diberikan kepada miliaran orang miskin, yang seringkali kekurangan kebutuhan pokok dalam hidup. Kita tidak boleh menutup mata terhadap situasi dramatis kemiskinan yang kini kita temui di sekitar kita. Setiap hari kita bertemu dengan orang-orang yang miskin. Mereka bahkan mungkin adalah tetangga sebelah kita. Seringkali mereka menjadi tunawisma atau kekurangan makanan untuk sehari-hari. Mereka menderita karena pengucilan dan ketidakpedulian banyak orang. Sungguh memalukan bahwa di dunia yang memiliki sumber daya yang sangat besar, yang sebagian besar ditujukan untuk memproduksi senjata, masyarakat miskin tetap menjadi mayoritas dari populasi planet ini, yaitu miliaran orang. Mereka sering hanya menjadi objek wacana politik dan ekonomi, yang kemudian hanya menjadi korban.

Menggemakan pesan kuno para nabi, Yubileum mengingatkan kita bahwa harta benda bumi tidak diperuntukkan bagi segelintir orang yang mempunyai hak istimewa, tetapi untuk semua orang. Orang kaya harus bermurah hati dan tidak mengalihkan pandangan dari wajah saudara-saudarinya yang membutuhkan. Kelaparan adalah sebuah skandal, sebuah luka terbuka pada tubuh kemanusiaan kita. Paus meminta supaya membentuk dana global yang dapat mengakhiri kelaparan dan mendukung pembangunan di negara-negara paling miskin, sehingga warga negara mereka tidak melakukan tindakan kekerasan, atau harus meninggalkan negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih bermartabat. Berkenaan dengan realitas kemiskinan itu, Sri Paus memohon dengan sangat agar negara-negara makmur menghapus utang negara-negara yang tidak akan pernah mampu membayarnya kembali. Lebih dari sekedar persoalan kemurahan hati, ini adalah persoalan keadilan. Paus juga memberikan perhatian pada persoalan ekologis, khususnya mengenai ketidakseimbangan komersial yang berdampak pada lingkungan dan kehidupan serta penggunaan sumber daya alam yang tidak proporsional oleh negara-negara tertentu dalam jangka waktu yang lama. Paus menegaskan bahwa bumi adalah milik Tuhan dan kita semua yang tinggal di dalamnya sebagai “orang asing dan penghuninya” (Imamat 25:23). Jika kita benar-benar ingin mempersiapkan jalan menuju perdamaian di dunia ini, kita harus berkomitmen untuk memperbaiki penyebab ketidakadilan.

Memori akan Konsili Nicea

Tahun Yubileum 2025 juga bertepatan dengan tanggal yang penting bagi seluruh umat Kristiani, yaitu peringatan 1.700 tahun perayaan Konsili Ekumenis besar yang pertama, yaitu Konsili Nicea. Tahun Yubileum dapat berfungsi sebagai kesempatan penting untuk memberikan ekspresi konkret terhadap bentuk sinodalitas Gereja, yang oleh komunitas Kristen saat ini dianggap semakin diperlukan untuk menanggapi kebutuhan mendesak akan evangelisasi. Semua orang yang dibaptis, dengan karisma dan pelayanannya masing-masing, mempunyai tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa berbagai tanda pengharapan memberikan kesaksian akan kehadiran Allah di dunia.

Konsili Nicea berupaya menjaga kesatuan Gereja, yang terancam secara serius oleh penyangkalan terhadap keilahian penuh Yesus Kristus dan karenanya kesejajaran-Nya dengan Bapa. Konsili Nicea merupakan tonggak sejarah Gereja. Pada saat yang sama, Nicea mewakili seruan kepada semua Gereja dan Komunitas Gerejawi untuk bertekun di jalan menuju kesatuan yang nyata dan dalam mencari cara yang tepat untuk menanggapi sepenuhnya doa Yesus “agar mereka semua menjadi satu. Sama seperti Engkau, ya Bapa, yang ada di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, semoga mereka juga ada di dalam kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku” (Yoh. 17:21). Konsili Nicea juga membahas tanggal Paskah. Sampai hari ini, pendekatan yang berbeda terhadap pertanyaan ini menghalangi perayaan peristiwa fundamental iman kita pada hari yang sama. Untungnya, perayaan bersama akan terjadi pada tahun 2025. Semoga ini menjadi seruan bagi semua umat Kristiani, Timur dan Barat, untuk mengambil langkah maju menuju persatuan menjelang tanggal Paskah yang sama.

Pengharapan akan Kehidupan Kekal

Pengharapan, bersama dengan iman dan kasih, merupakan “kebajikan teologis” yang mengungkapkan inti kehidupan Kristiani (lih. 1 Kor 13:13; 1 Tes 1:3). Dalam kesatuannya yang tak terpisahkan, pengharapan merupakan keutamaan yang bisa dikatakan memberikan arah dan tujuan batin bagi kehidupan orang beriman. Oleh karena itu, Rasul Paulus mendorong kita untuk “bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam penderitaan, dan bertekun dalam doa” (Rm. 12:12). Tentunya kita perlu “berlimpah dalam pengharapan” (lih. Rom 15:13), sehingga kita dapat memberikan kesaksian yang dapat dipercaya dan menarik tentang iman dan kasih yang berdiam di dalam hati kita; agar iman kita bergembira dan amal kita bersemangat.

Kematian dan kebangkitan Yesus adalah inti iman kita dan dasar pengharapan kita. Santo Paulus menyatakan hal ini secara ringkas dengan menggunakan empat kata kerja: “Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, apa yang telah kuterima sendiri, yaitu bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci, dan dia menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas orang itu” (1 Kor 15:3-5). Kristus mati, dikuburkan, dibangkitkan dan menampakkan diri. Demi kita, Yesus mengalami drama kematian. Kasih Bapa membesarkan Dia dalam kuasa Roh Kudus, dan menjadikan kemanusiaan-Nya sebagai buah sulung dari keselamatan kekal kita. Pengharapan Kristiani justru terletak pada hal ini: bahwa dalam menghadapi kematian, yang tampaknya merupakan akhir dari segalanya, kita mempunyai kepastian bahwa, berkat kasih karunia Kristus yang diberikan kepada kita melalui Pembaptisan, “hidup diubah, bukan berakhir”. Dikuburkan bersama Kristus dalam Pembaptisan, dalam kebangkitan-Nya kita menerima anugerah kehidupan baru yang meruntuhkan tembok kematian, menjadikannya jalan menuju kekekalan.

Kesaksian paling meyakinkan mengenai harapan ini diberikan oleh para martir. Dengan teguh dalam iman mereka kepada Kristus yang telah bangkit, mereka meninggalkan kehidupan di dunia ini, daripada mengkhianati Tuhan mereka. Kita perlu menghargai kesaksian mereka, untuk meneguhkan harapan kita dan membiarkannya menghasilkan buah yang baik.

Sri Paus juga berbicara tentang penghakiman terakhir, yang harus dipahami dalam kasih Allah. Kita memang harus mempersiapkan diri kita secara sadar dan bijaksana untuk menghadapi saat ketika hidup kita akan diadili, namun kita harus selalu melakukan ini dari sudut pandang pengharapan, kebajikan teologis yang menopang hidup kita dan melindunginya dari ketakutan yang tidak berdasar. Penghakiman Allah, yang adalah kasih (lih. 1 Yoh 4:8.16), pasti akan didasarkan pada kasih (lih. Mat 25:31-46). Penghakiman itu harus dipahami sebagai hubungan kebenaran dengan Tuhan yang adalah kasih dan dalam misteri kemurahan ilahi yang tak terselami. Kitab Suci menyatakan: “Kamu telah mengajari umatmu bahwa orang benar harus baik hati, dan kamu telah memberi anak-anakmu harapan yang baik, karena kamu memberikan pertobatan atas dosa, sehingga… ketika kita diadili, kita dapat mengharapkan belas kasihan” (Kebijaksanaan 12 :19.22). Kejahatan yang telah kita lakukan tidak bisa disembunyikan; ia perlu dimurnikan untuk memungkinkan perjumpaan definitif dengan kasih Tuhan. Di sini kita mulai melihat perlunya doa-doa kita bagi semua orang yang telah mengakhiri ziarah duniawi mereka, suatu solidaritas kita dalam sebuah perantaraan yang efektif berdasarkan persekutuan para kudus, dan ikatan bersama yang menjadikan kita satu di dalam Kristus, yang sulung dari semua ciptaan. Indulgensi Yubileum, berkat kekuatan doa, dimaksudkan secara khusus bagi mereka yang telah mendahului kita, agar mereka dapat memperoleh belas kasihan sepenuhnya.

Sesungguhnya indulgensi merupakan salah satu cara untuk mengetahui sifat kemurahan Tuhan yang tidak terbatas. Sakramen Tobat meyakinkan kita bahwa Allah menghapuskan dosa-dosa kita. Kita merasakan kata-kata Mazmur yang penuh kuasa dan menghibur: “Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan setiap penyakitmu, yang menebus hidupmu dari kubur, yang memahkotai kamu dengan cinta dan kasih sayang… Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, penuh kasih, lambat marah dan kaya akan belas kasihan… Dia tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak pula membalas kita setimpal dengan kesalahan kita. Sebab seperti tingginya langit di atas bumi, begitu kuatnya kasih-Nya terhadap orang-orang yang takut kepadanya. Sejauh timur dari barat, sejauh itulah disingkirkannya dosa kita” (Mzm 103:3-4.8.10-12). Sakramen Rekonsiliasi bukan hanya merupakan anugerah rohani yang luar biasa, namun juga merupakan sebuah langkah yang menentukan, esensial dan mendasar dalam perjalanan iman kita. Di sana, kita mengizinkan Tuhan menghapus dosa-dosa kita, menyembuhkan hati kita, membangkitkan kita, memeluk kita dan memperlihatkan kepada kita wajah-Nya yang lembut dan penuh belas kasihan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengenal Tuhan selain membiarkan Dia mendamaikan kita  dengan diri-Nya sendiri (lih. 2 Kor 5:20) dan menikmati pengampunan-Nya. Namun, seperti yang kita ketahui dari pengalaman pribadi, setiap dosa “meninggalkan bekasnya”. Dalam kemanusiaan kita, yang lemah dan tertarik pada kejahatan, sisa-sisa dosa masih ada. Hal-hal ini dihilangkan melalui indulgensi, selalu melalui kasih karunia Kristus. Pengalaman pengampunan penuh ini membuka hati dan pikiran kita terhadap perlunya memaafkan orang lain. Pengampunan tidak mengubah masa lalu, namun membuka pintu yang memungkinkan kita untuk mengubah masa depan dan menjalani kehidupan yang berbeda, bebas dari kemarahan, permusuhan dan dendam. Pengampunan memungkinkan masa depan yang lebih cerah, yang memungkinkan kita melihat masa lalu dengan mata berbeda, kini lebih tenang, meski masih membawa jejak air mata masa lalu.

St. Maria Bunda Pengharapan

Harapan menemukan kesaksian tertingginya dalam diri Bunda Allah. Dalam diri Santa Perawan Maria, kita melihat bahwa harapan bukanlah optimisme yang naif, melainkan anugerah rahmat di tengah kenyataan hidup. Seperti setiap ibu, setiap kali Maria memandang Putranya, dia memikirkan masa depannya. Tentunya dia terus merenungkan dalam hatinya kata-kata yang disampaikan kepadanya di Bait Suci oleh Simeon: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan; dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35). Di kaki salib, dia menyaksikan penderitaan dan kematian Yesus, Putranya yang tidak bersalah. Karena diliputi kesedihan, dia tetap memperbarui “fiat”-nya, tidak pernah meninggalkan harapan dan kepercayaannya kepada Tuhan. Maria menjadi Bunda kita, Bunda Pengharapan. Bukan suatu kebetulan bahwa kesalehan masyarakat terus menyebut Perawan Terberkati sebagai Stella Maris, sebuah gelar yang mengungkapkan harapan pasti bahwa, di tengah badai kehidupan ini, Bunda Allah datang membantu kita, menopang kita dan mendorong kita untuk bertahan dalam harapan dan kepercayaan.

Penulis Kitab Ibrani menulis dengan sangat baik  mengenai sandaran harapan kita Kristus: “Semoga kita yang berlindung kepada-Nya diberi semangat yang kuat untuk meraih pengharapan yang ada di hadapan kita. Kita mempunyai pengharapan ini, suatu sauh jiwa yang teguh dan teguh, suatu pengharapan yang memasuki tempat suci di balik tirai, di mana Yesus, pendahulu kita, telah masuk” (Ibr. 6:18-20).

Tahun Yubileum akan menjadi Tahun Suci yang ditandai dengan harapan yang tidak pernah pudar kepada Tuhan. Penulis Kitab Mazmur meneguhkan kita, “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mazmur 27:14).

Selamat menyongsong Tahun Yubileum 2025, dengan iman, harapan dan kasih yang mendalam.

Blasius S. Yesse, pr

IBADAT PAGI RUTIN DOSEN, PEGAWAI DAN MAHASISWA STP DIAN MANDALA

Sebagai bagian dari pendidikan, pembinaan dan latihan keterampilan berpastoral, para mahasiswa STP Dian Mandala Gunungsitoli setiap paginya melaksanakan Ibadat Pagi bersama yang dihadiri juga oleh para Fungsionaris dan Dosen serta Staf Pegawai. Selain tujuan utama sebagai doa dan syukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya dan mohon berkatnya dalam melaksanakan tugas-tugas sehari-sehari sebagai Dosen dan Mahasiswa serta Pegawai, Ibadat Pagi ini dilaksanakan sebagai intrumen latihan dalam hal kepemimpinan liturgi, sehingga diharapkan para mahasiswa mampu untuk mempimpin liturgi di tengah-tengah umat beriman.
Para Petugas Ibadat Pagi bersama terdiri 5 orang: Pemimpin Doa, Dirigen, Pembaca Kitab Suci (terutama Injil pada hari yang bersangkutan), Pengkotbah, dan Organis. Para petugas pun diambil dari dari setiap semester. Biasanya untuk pengkotbah diambil dari semester akhir yaitu semester 8. Setiap hari, para petugas akan bertugas secara bergiliran, agar dalam setahun semua mahasiswa dapat tampil / terlibat dalam Ibadat Pagi ini.

Seusai Ibadat Pagi yang difasilitasi oleh para petugas, para Fungsionaris memberikan evaluasi singkat kepada seluruh petugas Ibadat Pagi. Evaluasi dilakukan untuk melihat hal-hal yang sudah baik dan hal-hal yang masih perlu diperhatikan untuk diperbaiki di lain kesempatan, atau langsung diulang pada keesokan harinya, sampai akhirnya “lulus tampil”.
Semoga para mahasiswa yang telah dipersiapkan oleh lembaga STP Dian Mandala Gunungsitoli, dapat banyak belajar dan mampu juga mengaplikasikan dengan baik semua ilmu dan pengalaman liturgis dan spiritualis yang diperoleh selama di bangku kuliah STP Dian Mandala Gunungsitoli.

KERASULAN DOSEN DAN MAHASISWA STP DIAN MANDALA DI STASI ST. THOMAS ONODOHALAWA PAROKI IDANOGAWO

Lembaga Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli, pada hari Minggu, 28 April 2024 mengadakan kerasulan ke Stasi Santo Thomas Onodohalawa Paroki St. Petrus dan Paulus Idanogawo. Kerasulan ini sebagai bagian dari tekat Lembaga STP Dian Mandala untuk hadir di tengah-tengah umat Katolik, menjalankan tri dharma Perguruan Tinggi yaitu Pelayanan dan Pengabdian kepada Masyarakat, sekaligus memperomosikan lembaga STP Dian Mandala kepada segenap umat Katolik yang ada di Keuskupan Sibolga.
Adapun para dosen yang terlibat dalam kegiatan kerasulan Mingguan ini adalah Fr. Antonius P. SIpahutar CMM, Sr. Caroline Naibaho KYM, Ibu Martina Marbun dan P. Sergius Lay OFMCap. Sedangkan mahasiswa yang ikut dalam kerasulan ini berjumlah 22 orang.
Kegiatan kerasulan diawali dengan bincang-bincang bersama umat, Perayaan Ekaristi, Perkenalan Lembaga STP dan Promosi, serta ramah tamah di Rumah Lektor (pimpinan dewan Stasi), Bpk. Ama Kalvin Halawa. Dalam kata sambutan di Gereja maupun di rumah Lektor Ama Kalvin, pengurus Gereja mengharapkan agar kegiatan kerasulan seperti adalah hal baik agar umat katolik dapat mengenal lebih dekat STP Dian Mandala, serta memperkenalkan kepada anak-anak muda / OMK agar kelak dapat memilih lembaga STP Dian Mandala sebagai pendidikan lanjut mereka setelah tamat SMA / SMK.
Setelah acara ramah tamah di Rumah Lektor Stasi Ama Kalvin Halawa, para dosen dan mahasiswapun kembali ke Gunungsitoli untuk melanjutkan aktivitas mereka (psl).

GEᖇEᒍᗩKᑌ YᗩᑎG ᕼᗩᗰᑭᗩ

Antonius S. Gea

Tiupan angin yang kian kemari

Membawa berita tentang dunia

Melihat gedung suci yang dulu terbuka lebar

Kini menjadi tertutup rapat

Sungguh canggih yang melanda dunia ini

Menghambat semua aktivitas manusia

Kehidupan sosial semakin sunyi senyap

Termasuk gereja yang ditutup tanpa penghuni

Ooooh… gedungku yang suci

Bersabarlah dahulu menanti kami, untuk datang mengunjungimu

Kami tak ada niat meninggalkan rahimmu

Tetapi, saat ini hidup kami sedang dalam pencobaan

Melihat rahimmu yang kini kosong

Kami ingin kembali untuk menghiburnya

Dengan duduk, berdiri, berlutut, bernyanyi dan berdoa

Kami mengurung diri sementara waktu saja

Menunggu api wabah ini meninggalkan kami

Kami menghindar bukan karena takut

Tetapi, agar penghunimu tidak ada yang sakit

Tuhan penolong kami

Pulihkan kembali situasi kami

Kami ingin bertemu satu dengan yang lain

Untuk memasyhurkan nama-Mu Yang Kudus

Kami ingin gedung gereja terbuka kembali

Dan menikmati kedamaian hidup di dalam rahimnya

Penulis,

Antonius Sadarman Gea

(Mahasiswa STP Dian Mandala)

𝐃𝐎𝐌𝐄𝐒𝐓𝐈𝐂𝐀 𝐄𝐂𝐂𝐋𝐄𝐒𝐈𝐀 – 𝐏𝐀𝐒𝐊𝐀𝐇 – 𝐂𝐎𝐕𝐈𝐃-𝟏𝟗

Sergius Lay, S.Ag., M.Ed.

1. Awal Mula Covid-19 dan Pengaruhnya

Sejak pertengahan bulan Desember 2019 lalu, dunia digemparkan oleh munculnya satu virus baru yang menghebohkan dunia, karena proses penyebarannya yang cepat dan meluas ke seluruh dunia, sehingga disebut dengan pandemic covid-19 (Coronavirus Disease 2019).

Menurut informasi, virus baru ini muncul di kota Wuhan, tetapi banyak orang yang belum tahu dari mana asal virus korona baru yang mulai merebak di Wuhan, China, Desember 2019, apakah dari hewan, yaitu kelelawar atau belakang dikatakan berasal dari tenggiling atau hasil kreasi genetik dari laboratorium tertentu. Namun dalam berita Liputan6.com tanggal 7 April 2020, sejumlah peneliti dari di bawah pimpinan Shan-Lu Liu dari Ohio State University, mengatakan bahwa covid-19, termasuk SARS dan MERS,adalah bagian dari keluarga besar (famili) virus korona, yang dapat menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan yang luas. Mereka juga mengatakan bahwa SARS dan MERS berasal dari kelelawar, dan karena itu covid-19 pasti juga berasal dari alam dan bukan hasil rekayasa / kreasi manusia di laboratorium.

Lepas dari asal-usul covid-19, apakah disebabkan oleh alam atau kreasi genetik laboratorium, telah nyata bahwa covid-19 ini telah mempengaruhi pola hidup dan berpikir kita di bulan-bulan terakhir ini. Banyak orang mulai melihat wabah ini dari sudah pandang negatif, tetapi banyak orang juga yang melihat ini secara positif. Ulasan-ulasan teologis spiritual, psiko-sosial, social – politik – ekonomi, bermunculan di media-media cetak dan Online dengan jumlah yang tidak terkira. Di sini kita tidak hendak membahas semuanya secara detail, tetapi hanya melihatnya dalam konteks keberadaan kita yang sedang merayakan Paskah Tuhan di antara minggu pertama dan kedua di bulan April 2020.

2. Covid-19 dan Perayaan Paskah 2020

Mungkin kita dapat mengatakan bahwa wabah covid-19 muncul dan merebak manakala Umat Katolik (dan Kristen secara umum) sedang mempersiapkan (masa pra-paskah) Paska Kebangkitan Tuhan, yang puncaknya dirayakan pada Vigilia Paskah tanggal 11 April 2020 dan Perayaan Minggu Paskah tanggal 12 April 2020.

Memasuki Minggu Sengsara, yang dibuka dengan Perayaan Minggu Palma pada tanggal 5 April 2020, seraya mematuhi himbauan pemerintah untuk stay at home, hindari kerumunan, hindari pertemuan-pertemuan jaga jarak baik social maupun fisik, serta dikuatkan oleh surat-surat pastoral dari pimpinan gereja Keuskupan dan diteruskan ajakan para pimpinan Gereja Paroki, banyak umat Katolik yang merasa kehilangan “sense of community” dan “sense of fraternity”  bersama dengan semua saudara seiman dalam perayaan ini.

Dengan demikian Puncak Perayaan Paskah dan perayaan lain sebelum dan setelah Perayaan Paskah, dirayakan secara live streaming, baik yang siarkan dari Gereja-Gereja Katedral, Gereja-Gereja Paroki dan juga dari pelbagai komunitas-komunitas religius dan pastoran dengan waktu yang berbeda-beda. Seluruh umat Katolik pun diminta dan diharapkan untuk tidak menghadiri secara fisik secara Bersama dengan seluruh umat separoki atau juga sestasi atau sekomunitas tertentu, tetapi mengikutinya dari rumah masing-masing.

Sebuah fenomena baru muncul di saat-saat kerinduan untuk berpartisipasi secara aktif dengan seluruh umat separoki, sestasi dan sekomunitas umat beriman semakin tidak tertahankan. Mengikuti perayaan ekaristi dan ibadat harian pada hari-hari Minggu dan hari-hari biasa sebelum Perayaan Paska dirasa tidak memuaskan secara rohani, psikologis dan fisik. Kecanggihan alat-alat teknologi secara komputer, laptop, notebook, smartphone dan lain sebagainya, sepertinya tidak mampu memberikan kepuasan lahir dan batin / jasmani dan rohani jika dibandingkan dengan mengikuti secara fisik dengan seluruh umat beriman di gereja stasi atau gereja paroki di komunitas umat beriman.

Sebagai ungkapan kerinduan itu, muncullah pelbagai inisiatif dari banyak keluarga Katolik yang ingin merayakan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah dan Minggu Paskah, tidak hanya secara live streaming melainkan langsung merayakannya di rumah sendiri dan Bersama dengan anggota keluarga ataupun Bersama dengan tetangga.

3. Domus Ecclesia, Paskah dan Covid-19

Pemikiran di paragraf terakhir di antar memberikan suatu pemahaman baru tentang Ecclesia Domestica, yang secara sederhana diartikan sebagai “Gereja Rumah Tangga”. Domus Ecclesia dapat diartikan sebagai suatu tempat pertama untuk tumbuh dan berkembangnya iman akan Kristus, tempat di mana terjadi kegiatan pengajaran dan praktek doa, kebajikan-kebajikan dan cinta kasih Kristus kepada kita (LG 11, FC 21).

Melihat di media-media social seperti facebook, tweeter, Instragram, Whatsapp dan medsos lainnya, tidak sedikit dari keluarga-keluarga Katolik yang “memamerkan” kegiatan-kegiatan doa di dalam keluarga. Doa yang dimaksud, tidak lagi sebatas pada kegiatan doa biasa seperti doa harian, atau doa waktu makan, atau doa rosario, atau doa syukuran tertentu, melainkan doa yang dipadukan dengan ibadat Gereja semesta, seperti Ibadat Minggu Palma, Ibadat Kamis Putih, Ibadat Jumat Agung, Ibadat Sabtu Suci dan Ibadat Minggu Paska.

Dengan demikian, doa yang dilakukan oleh Domus Ecclesia, tidak hanya sebatas pada doa biasa sebagai praktek keutamaan rohani – spiritual, tetapi doa yang disatukan dengan doa Gereja semesta, doa yang dipadukan dengan doa seluruh umat katolik, yang didasari pada intensi yang sama dan bersumber dari bacaan-bacaan Kitab Suci yang sama pula, dan mungkin saja memiliki struktur doa yang sama (karena memperoleh sumber bahan dari paroki atau dari sumber lain yang dipercaya sebagai Liturgi Katolik).

Atas dasar praktek-praktek yang terjadi seperti diuraikan di atas, kita dapat mengatakan bahwa selama masa covid-19 ini, Domus Ecclesia telah menjadi tempat di mana anak-anak dan seluruh anggota keluarga menerima pewartaan pertama mengenai iman dan praktek-praktek keutamaan spritual – rohani. Praktek-praktek ibadat resmi Gereja yang dilaksanakan dalam Tata Peribadatan di Gereja, “digeser” dan dipraktekkan di dalam keluarga. Maka tidak heran jika dalam Perayaan Minggu Palma (dan perayaan-perayaan trihari Paska), terjadi Ibadat Minggu Palma di dalam keluarga yang beranggotakan 4 (empat) atau 5 (lima) atau sekian orang, yang semua orang yang berpartisipasi mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing, seperti Ayah memimpin ibadat, ibu memimpin lagu, anak-anak membaca bacaan dan membawakan doa umat. Tidak hanya itu, bahwa ruangan ditata sedemikian menjadi “kapel kecil” yang memiliki altar yang ditutupi dengan kain altar dan juga lilin di atasnya.

Mengamati fenomena-fenomena ini, covid-19 yang mewabah di masa Minggu Suci tahun 2020 ini, mengajari kita tentang bagaimana kehidupan rohani dalam rumah tangga kecil, harus sungguh-sungguh menjadi Ecclesia Domestica. Itu mengandaikan suatu keinginan yang sungguh dalam menciptakan kondisi-kondisi yang mungkin agar karakteristik dari sebuah Ecclesia Domestica tersebut dapat menyata dan dialami oleh seluruh anggota keluarga tersebut.

Bagaimana karakteristik tersebut dapat menyata dalam Ecclesia Domestica? Beberapa aspek mungkin dapat diuraikan di sini:

  • Komitmen bersama menciptakan Ecclesia Domestica. Tanpa didorong oleh komitmen bersama yang kuat, dan motivasi dari kepala rumah tangga, sangat sulit terwujudnya suatu kehidupan rumah tangga yang bercirikan Ecclesia Domestica.

Sangat terasa bahwa kegiatan “doa dan ibadat Bersama dalam rumah tangga selama Pekan Suci, terutama pada Trihari Suci Paskah, merupakan wujud dari komitmen seluruh anggota kerluarga dalam upaya menghadirkan pelbagai ritual keagamaan selama hari-hari suci tersebut. Ritual keagamaan selama Pekan Suci tidak hanya lagi dilaksanakan di Gereja / Kapel, tetapi berpindah tempat ke dalam atau di tengah-tengah keluarga kristiani atau keluarga katolik. Dengan demikian, wabah covid-19 yang sedang dialami oleh seluruh masyarakat dan terutama umat katolik, telah berhasil “membumikan” pelbagai ritual keagamaan dari Gereja / Kapel ke tengah-tengah hidup keluarga, di dalam rumah serta dirayakan secara lebih intens.

  • Peran Bapa adalah imam dalam Ecclesia Domestica.

Dalam tradisi Yahudiah, seorang bapa dalam keluarga, juga menghayati statusnya sebagai seorang imam. Namun, Kitab Suci memisahkan 2 (dua) peran berbeda: pertama ialah peran bapa dan imam dalam keluarga (bagi semua bapa sebagai kepala rumah tangga) dan kedua adalah peran bapa dan imam dalam lingkungan bangsa Israel yang dikhususkan untuk keturunan Harun dan Lewi (Kel 19,22; 29,1-37; 40,12; Im 8,1-36).

Sebagai seorang bapa dan imam dalam rumah tangga, tugas mereka adalah mempersembahkan korban (Kej 8,20; 12,7). Di sini kita dapat melihat bahwa peranan bapa dan imam merupakan dua peranan yang berhubungan satu sama lain (Hak 17,10; 18,19). Karena itu dalam konteks situasi kita, peran bapa keluarga dalam mengaktifkan keluarga yang mau berdoa dan “memindahkan” kegiatan ritual di Gereja ke rumah tangga adalah sangat penting dan menentukan dalam menciptakan Ecclesia Domestica.

  • Penghayatan Liturgi Gereja berpindah ke Rumah Keluarga

Dalam kaitan dengan covid-19, peran imam (baca: pastor) dan fungsi Gereja berpindah ke bapa keluarga dan rumah tempat tinggal keluarga. Mengamati dan melihat di media-media social di mana seorang bapa rumah tangga memimpin ibadat di tengah anggota keluarga, seorang ibu rumah tangga membaca bacaan kitab suci dan beberapa anak bergantian memerankan tugas liturgi yang lain menunjukkan suatu kesaksian bahwa rumah tangga keluarga selama masa covid-19, telah menjadi Ecclesia Domestica yang sudah harus terus mendapat perhatian untuk dikembangkan atau dihayati dalam keseharian, walaupun suatu ketika tidak lagi berkaitan dengan perayaan liturgi resmi gereja, tetapi dalam bentuk doa devosi dan bentuk-bentuk doa lainnya yang dapat meningkatkan kualitas hidup beriman katolik.

Dalam kegiatan doa liturgi dan doa-doa devosi lainnya terbentuk satu persekutuan rahmat dan doa, satu sekolah untuk membina kebajikan-kebajikan manusia dan cinta kasih Kristen. Ecclesia Domestica juga menjadi tempat pendidikan doa bagi seluruh anggota keluarga. Atas dasar Sakramen Perkawinan, keluarga adalah “Gereja rumah tangga”, di mana anak-anak Allah berdoa “sebagai Gereja” dan belajar bertekun dalam doa. Teristimewa untuk anak-anak kecil, doa sehari-hari dalam keluarga adalah kesaksian pertama untuk ingatan Gereja yang hidup, yang dibangkitkan dengan penuh kesabaran oleh Roh Kudus” (KGK 1656, 1666. 2685).

  • Panggilan Ketekis dan Guru Agama Post-Wabah Covid-19

Selain bapak keluarga atau seorang awam lain yang telah “mengambil alih” tugas imam di Gereja-Altar serta fungsi rumah keluarga yang telah menjadi “gereja baru” di masa covid-19, maka muncul juga arah baru dari pelayanan dan panggilan seorang Katekis dan Guru Agama Katolik (tenaga pastoral) setelah wabah covid-19 ini. Ada beberapa catatan yang dapat dikemukakan berdasarkan pengalaman ini. Pertama, hendaklah berusaha untuk memahami dengan lebih baik fenomena ini sebagai kesempatan mencari arah baru dalam kegiatan berkatekese. Melihat fungsi Rumah Keluarga dan peran bapa dalam keluarga yang ditampakkan selama wabah covid-19, harus menjadi kesempatan bagi para tenaga pastoral untuk mengisi pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang tata cara ibadat yang benar menurut liturgi Gereja Katolik. Kedua, setelah memahami dengan baik tentang tata ibadat gerejawi, maka seorang tenaga pastoral hendaknya belajar untuk menemukan metode, strategi, Teknik atau cara dalam mengedukasi umat agar umat semakin memahami dan mengetahui serta terampil membawakan tata ibadat di dalam keluarga manakala wabah yang hampir sama menimpa lagi kehidupan masyarakat di masa-masa yang akan datang. Namun, untuk jangka panjang, bukan lagi berkaitan dengan tata ibadat resmi gereja tetapi ibadat-ibadat devosional lainnya yang merupakan perayaan sakramentalia yang dirayakan di tengah keluarga.

4. Catatan Penutup

Kita tidak mengetahui secara pasti sampai kapanlah wabah ini akan berakhir, dan kapan wabah yang sama atau dalam bentuk yang lain dengan tingkat bahaya yang sama atau lebih akan muncul lagi. Namun, dari pengalaman wabah covid-19, telah mengajari kita banyak hal mulai dari ritme hidup, menjaga kesehatan, cara berelasi dengan sesama sampai kepada praktik-praktik ritual keagamaan.

Semoga pengalaman wabah covid-19 di masa Pra-Paksa dan Paska ini bisa membuat kita memahami bahwa hidup harus dimaknai secara lebih baik dan berarti dalam relasinya dengan sesama, lingkungan dan Tuhan serta bagaimana meningkatkan kualitas-kualitas hidup sebagai seorang Katolik yang lebih baik.

Selamat Paska dan salam sehat untuk semuanya

Paskah Kedua, 13 April 2020

Sdr. Sergius Lay, OFMCap

MAHASISWA STP DIAN MANDALA KELAS SOLIDER GELAR AKSI PUNGUT SAMPAH

Kehadiran mahasiswa sebagai masyarakat intelektual harus mampu memberi dampak bagi lingkungan dan juga bagi masyarakat. Salah satunya adalah melalui kegiatan APS (Aksi Pungut Sampah).

Mahasiswa STP Dian Mandala Kelas Solider melakuan kegiatan yang berdampak langsung terhadap lingkungan dan juga masyarakat seperti jalan santai sambil pungut sampah di sepanjang jalan Kota Gunungsitoli. Kegiatan ini dimulai dari depan gereja Katolik Santa Maria Bunda Para Bangsa Gunungsitoli, jalan depan kantor Wali Kota Gunungsitoli, Tugu Gempa dan berakhir di Taman Ya’ahowu, Kamis (12/03/2020).

Ketua Tim Kerja (TIMKER), Dewi Purniman Waruwu mengatakan bahwa kegiatan tersebut digelar berdasarkan inisiatif dan program Kelas Solider. Selain itu, kegiatan pungut sampah sebagai upaya mengurangi sampah di sekitar trotoar/jalan raya yang dilalui dan di tempat-tempat keramaian. Aksi pungut sampah juga bermaksud sebagai ajakan bagi masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan yang dapat mencemari lingkungan.

Kita mau mengajak mahasiswa sebagai kaum intelektual untuk bisa memerangi masalah sampah. Dengan hal-hal sederhana seperti ini, mahasiswa dibiasakan untuk turut berkontribusi dalam menjaga lingkungan, ujarnya. 

Tidak sedikit yang berharap bahwa kegiatan semacam itu terus didengungkan dan direalisasikan kapan dan di mana saja demi kenyamanan bagi banyak orang, karena “lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bersih”.

Penulis,

            Gizakiama Hulu, M.Ag.

Performance Perdana Sanggar Sohagaini STP Dian Mandala

Lomba Seni Tari Kreasi Tradisional Nias yang diselenggarakan oleh Taruna Merah
Putih Kota Gunungsitoli dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Agustus 2018 di Taman
Ya’ahowu. Kegiatan lomba tersebut diikuti oleh 21 Sanggar dari berbagai kelompok tertentu.
Salah satu di antaranya Sanggar Sohagaini STP Dian Mandala. Peserta Sanggar Sohagaini
tidak lain dari mahasiswa STP Dian Mandala yang telah dilatih jauh-jauh hari serta yang
memiliki bakat khusus dalam dunia seni tari. Sanggar Sohagaini telah menunjukkan
kebolehannya di hadapan juri, pejabat Pemerintah Kota Gunungsitoli, dan para hadirin saat
itu. Mereka menampilkan Tari Moyo yang telah dikreasikan dengan baik. Dalam event ini,
Sanggar Sohagaini merupakan performance perdana. Meskipun demikian, peserta penuh
dengan semangat dalam melestarikan kearifan lokal seperti yang tertera pada tema:
“Semangat Perjuangan Cintai Budayamu.”

Pelatihan Kurikulum 2013 (K-13)

Lembaga STP Dian Mandala sebagai wadah pendidikan, maka lembaga juga telah memikirkan masa depan mahasiswa sebagai tenaga pendidik. Oleh karena itu, lembaga menghadirkan ibu Dewi Sartika Simbolon, S.Ag., M.Pd., (Dosen UNIMED) sebagai narasumber dalam memberi pelatihan Kurikulum 2013 (K-13) kepada mahasiswa STP Dian Mandala Tingkat II yang berjumlah 62 orang. Beberapa dosen menjadi pendamping dalam pelatihan tersebut. Pelatihan K-13 akan berlangsung kurang lebih 4 hari yang dimulai hari Selasa, 22 Mei 2018 s/d Jumat, 25 Mei 2018 dengan bertempat di Auditorium STP Dian Mandala. Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa sebagai guru di masa depan, sehingga semakin mantap dalam melaksanakan tugas mengajar di dalam kelas sesuai dengan tuntutan dan karakteristik K-13 yang meliputi kompetensi lulusan isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Besar harapan kita bahwa peserta pelatihan akan menjadi konsultan K-13 di mana pun berkarya nantinya. Pada akhirnya, terima kasih kepada pimpinan STP Dian Mandala yang telah memfasilitasi terlaksananya pelatihan ini.